Kepemimpinan Baru NU ‘Ala Timur Tengah’

Kepemimpinan Baru NU ‘Ala Timur Tengah’

NU Online Mojokerto – NU artinya adalah Kebangkitan Para Ulama. Andaikan para pengurusnya adalah para kiai pesantren tentu tidak ditemukan gonjang-ganjing. Seandainya anggotanya adalah para santri lulusan Alfiyah tentu tidak sebanyak jumlah warga NU sekarang.

 

Karena sudah dibuka oleh Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari, Rais Akbar NU, bahwa NU ini adalah organisasi para ulama dan para pengikutnya. Lha ulamanya saja bermacam-macam apalagi para pengikutnya.

 

Terpilihnya KH Miftahul Akhyar

 

Beliau dalam keilmuan Islam sudah tidak diragukan lagi. Ilmu fikihnya sudah terlihat setiap beliau menjadi Musohih di Bahtsul Masail PWNU. Dengan sabar dan telaten beliau sampai rela menginap beberapa hari.

 

Ilmu Usul Fikih juga tidak bisa diremehkan. Saat menjadi Rais Syuriah PCNU Surabaya beliau menggelar ngaji rutin kitab Jam’u Al-Jawami. Kalau ada yang mengaku pakar Usul Fikih tapi belum menguasai kitab ini sepertinya belum 100@% kepakarannya. Demikian pula ketasawufan beliau, tidak perlu diragukan. Secara keilmuan dan akhlak saya meyakini beliau adalah representasi kiai pesantren.

 

Dalam organisasi? Jangan diragukan. KH Miftahul Akhyar, mengawali sebagai Rais Syuriah PCNU Kota Surabaya pada 2000, kemudian Rais Syuriah PWNU Jatim di tahun 2007.

 

Pada Muktamar NU di Jombang Beliau diminta menjadi Wakil Rais Am PBNU oleh KH Ma’ruf Amin. Setelah menjadi Wapres maka KH Miftah menjadi pejabat Rais Am. Dan malam ini Beliau terpilih menjadi Rais Am.

 

Terpilihnya Gus Yahya Tsaquf (tertulis Staquf)

 

Jabatan beliau sebelum terpilih menjadi Ketua Umum adalah sebagai Katib Am PBNU. Sektretaris Syuriah.

 

Apa sih bedanya Syuriah dan Tanfidziah? Kalau anda bekerja di perusahaan ada istilah Komisaris dan Direksi. Syuriah itu seperti Komisaris dan Tanfidziah seperti Direksinya. Syuriah atau Komisaris yang memiliki wewenang. Sementara Tanfidziah atau Direksi adalah pelaksana.

 

Saat saya sowan ke KH Nurul Huda, Ploso Kediri, beliau dawuh: “Para Kiai condong kepada Gus Yahya karena beliau berjanji akan mengembalikan NU ke Pesantren”. Saya tidak tahu format seperti apa yang disepakati oleh Gus Yahya bersama para kiai pesantren ini. Dalam hal ini saya manut kepada Kiai Huda, sebab beliau sering menyampaikan hadis:

 

ﻭﺛﻼﺙ ﻣﻬﻠﻜﺎﺕ: ﻫﻮﻯ ﻣﺘﺒﻊ ﻭﺷﺢ ﻣﻄﺎﻉ ﻭاﻋﺠﺎﺏ اﻟﻤﺮء ﺑﻨﻔﺴﻪ

 

Ada 3 perbuatan yang dapat merusak seseorang, selalu mengikuti nafsu, kikir dan mengajak orang lain kikir, dan seseorang yang mengagumi pendapatnya sendiri (HR Thabrani)

 

Dulu waktu di pondok Kiai Huda sering mengingatkan agar para santri tidak merasa pendapatnya lebih bagus dari pada gurunya.

 

Para Kiai di AHWA telah memilih KH Miftahul Akhyar. Para Muktamirin lebih banyak memilih Gus Yahya. Saya akan manut kepada Pimpinan kami yang sah. Semoga Allah memberi pertolongan kepada beliau berdua dan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

 

Judulnya Timur Tengah, apakah karena Yai Miftah pernah belajar di Mesir dan Gus Yahya menetap di Makkah? Ya ada. Tapi faktor lain saya menulis tema di atas, karena Yai Miftah dari Jawa Timur dan Gus Yahya dari Jawa Tengah. Kalau kalimat ‘Jawa’ tidak disebut maka tertulis “Timur Tengah”.

 

Dikutip dari tulisan KH. MARUF KHOZIN