Pena  

Hidup Bahagia Ala Gus Baha

Zaman semakin maju, teknologi semakin berkembang. Hidup tidak lagi ada batas, satu sama lain saling terhubung. Ekspektasi hidup makin tinggi, gaya hidup pun tidak lagi sederhana. Banyak orang yang stres dengan kehidupan zaman sekarang, tetapi ada seseorang yang malah tidak peduli dengan gaya hidup modern. Sebut saja dia Gus Baha, seorang pria sederhana kelahiran tahun 70-an, ahli tafsir, ulama ternama Indonesia yang sepak terjangnya diakui ulama dunia.

Gus Budin Nursalim, sudah terbiasa dengan didikan disiplin. Ayah beliau KH. Nursalim adalah guru Al-Qur’an yang menggembleng Gus Baha sejak kecil. Sehingga saat masih berusia muda, Gus Baha sudah menghafal Al-Qur’an 30 juz beserta qiraahnya.

Setelah menghafal Al-Qur’an, Gus Baha melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang-Rembang, yang diasuh langsung oleh KH. Maimoen Zubair. Kesungguhannya dalam memahami keilmuan Islam, membuatnya menjadi santri kebanggaan kiai. Gus Baha telah mengkhatamkan dan menghafal beberapa kitab, seperti Sahih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya. Selain Sahih Muslim, beliau juga mengkhatamkan dan hafal isi kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika bahasa arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Gus Baha adalah sosok santri ideal, sering dijadikan teladan oleh KH. Maimoen Zubair untuk santri-santri yang lain. Seperti saat KH. Maimoen Zubair memberikan Mawa’izh di berbagai kesempatan, beliau akan selalu ngendikan, “Santri tenan iku yo koyo Baha iku.” (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha itu).

Selain dulunya adalah santri teladan, saat ini Gus Baha merupakan Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII), bersama para profesor, doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari seluruh Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Pernah suatu ketika, Prof. Quraisy Syihab mengungkapkan bahwa di Dewan Tafsir Nasional, selain Gus Baha sebagai mufassir, juga sebagai mufassir faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kepiawaian Gus Baha dalam berbagai disiplin ilmu agama dan tafsir Al-Qur’an membuat beliau memiliki pemikiran-pemikiran tentang resep hidup bahagia dari sebuah kesederhanaan.

Filosofi Hidup Singkat Gus Baha

Gus Baha sering manyampaikan kapada para santrinya, “Ulama dahulu dalam menghitung hidup hanya dua menit atau dua detik. Sehingga dia gampang saja. Seperti Rasulullah, pernah ditanya oleh sahabatnya, ‘Wahai Rasulullah kenapa tidak menyiapkan makan sampai dengan besok? Rasul menjawab, saya itu tidak yakin kalau besok saya masih hidup.”

Begitu pun saat memandang maksiat, “Alhamdulillah, ijek urip (masih hidup) satu detik, dua detik, satu menit. Masih cukup untuk melafalkan Laa Ilaha Illallah. Sehingga kata pengarang hikam betapa murahnya Allah, surga itu bisa dibeli hanya dengan dua menit. Karena surga seharga Laa Ilaha Illallah. Miftahul Jannah Laa Ilaha Illallah.” Kalimat Laa Ilaha Illallah bisa selesai dilafalkan dalam waktu dua menit, makanya Allah dianggap begitu maha pemurah, karena memberikan kunci surga yang cukup dilafalkan hanya dalam waktu singkat.

Nabi dan para ulama zaman dahulu memiliki cara pandang hidup sederhana. Mereka memandang hidup hanya satu menit sampai dua menit saja (hidup hanya sebentar), sehingga hidup mereka santai dan tidak terbebani. Ekspektasi sering membuat manusia berangan-angan hal yang besar dan jauh. Ketika ekspektasi tidak tercapai, manusia akan cenderung stres, sedih, dan tidak semangat. Sedangkan dengan memandang hidup hanya sebentar, ekspektasi hanya sederhana saja: bisa makan, bisa istirahat dan bisa ibadah saja sudah cukup.

“Kriminal betul jika kita memandang hidup per-10 tahun, per-20 tahun, sehingga kita membayangkan harus punya uang, kalau kyai harus punya pengaruh.” Terang Gus Baha.

Filosofi hidup singkat inilah yang membuat Gus Baha selalu mengajak para mustami’in untuk hidup sederhana dan tidak berekspektasi berlebihan. Karena sejatinya manusia tidak tahu apa yang terjadi besok. Bisa jadi kita sudah dipanggil ilahi, sehingga lebih baik kita mengontrol kondisi yang saat ini terjadi.

Filosofi Hidup Sederhana Gus Baha

Gus Baha merupakan sosok yang sederhana. Meskipun setiap hari dikelilingi oleh para santri, dihormati dan disegani para profesor dan kyai, tetapi hal itu tidak membuat beliau memiliki gaya hidup high class. Padahal, beliau juga seorang berkedudukan penting di Dewan Tafsir Nasional. Prof. Dr. Quraisy Syihab menuturkan, bahwa setiap Lajnah menggarap tafsir dan mushaf Al-Qur’an, Gus Baha selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir dan faqihul Quran yang tugasnya menguraikan kandungan fikih yang terdapat dalam ayat-ayat ahkam di Al-Qur’an. Namun, Gus Baha tidak sungkan untuk pergi ke pasar berbelanja, ke mini market mengantarkan anaknya jajan, atau naik bus untuk melakukan perjalanan ke luar kota.

“Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa saja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja.” Tutur Gus Baha.

Jika kesuksesan diukur hanya dengan sebuah penghormatan, maka posisi sebuah kesuksesan dalam hidup cukup rendah. Penghormatan bukanlah sebuah hal paten, kehormatan bisa sewaktu-waktu pergi dan hilang dengan mudah, hanya karena sebab-sebab tertentu. Maka, bila berkaca dari mudah hilangnya sebuah kehormatan, untuk apa kita mengejarnya dengan berpura-pura menjadi sesuatu yang menyulitkan? Hidup sederhana saja, tidak perlu memaksakan diri.

Cara hidup sederhana yakni manusia tidak perlu berangan-angan tinggi. Menetapkan standar seminimalis mungkin untuk dunia adalah kuncinya. Seperti, suami tidak berharap sambutan hangat istrinya saat pulang kerja dan dibuatkan teh hangat. Manusia banyak memaksakan diri agar sesuatu sesuai standar idealnya, padahal semua itu akan menyulitkannya. Terkadang, manusia menganggap kesenangan demi kesenangan adalah indikator sebuah kebahagiaan.

Menurut Gus Baha, “Sedikitlah kamu gembira dengan satu hal, maka sedikit pula kamu kecewa dengan satu hal.”

Artinya jika kita mengalami kejadian sedih, cari sisi positifnya sehingga kita bahagia. Sebagai contoh, Rasulullah melihat sahabat yang ada di medan perang dengan dua sudut pandang. Pertama, Rasulullah bersyukur, sahabat yang meninggal dia adalah syahid. Kedua, Rasulullah bersyukur, sahabat yang masih hidup berarti berpotensi melakukan kebaikan.

Model berpikir seperti itu harus dibiasakan, sehingga kita terbiasa melihat sesuatu tidak harus dengan standar yang tinggi. Karena apa pun itu, semua bisa dilihat dari dua sudut pandang yang bisa disyukuri.

Jangan Melihat Kenikmatan Orang Lain

“Termasuk kuncinya nikmat itu satu, jangan melihat (nikmat) orang lain.” Tutur Gus Baha. Beliau menjelaskan, bahwa semakin kita sering melihat kenikmatan orang lain, semakin kita tidak tenang. Gus Baha tidak pernah melihat secara sempurna tayangan kemewahan di televisi Beliau khawatir ada rasa kepengin dalam dirinya, sehingga akhirnya mengeluh.

Gus Baha menceritakan bahwa suatu hari, Nabi Muhammad saw. pernah melirik tetangganya yang sedang membeli unta. Nabi Muhammad saw. ditegur oleh Allah, “Ya Muhammad, janganlah engkau melihat! Sebab itu engkau akan mengeluh ‘betapa nikmatnya orang itu’.” Allah swt. menyuruh umatnya untuk fokus melihat nikmat yang diberikan kepadanya saja. Misalkan bersyukur masih pagi sudah bisa ngopi.

Dalam ngajinya, Gus Baha semakin menegaskan, “Tidak ada sesuatu yang aqsama lidhahrisysyaithan (memutus punggungnya syaitan), seperti min farahil mu’min bil halal (senangnya orang mukmin dengan barang halal).” Artinya, setan akan sangat tersiksa bila ada seorang mukmin yang bahagia karena menikmati sesuatu yang halal.

Sesuatu yang halal tidak harus hal yang berat. Jika tahajud tidak semua orang bisa melakukan atau belajar juga tidak semua orang bisa melakukan, maka sekadar kumpul bareng teman sambil guyon ini halal, sudah membuat syaitan sangat tersiksa. Membiasakan melakukan hal sederhana yang halal akan menambah rasa syukur. Lain halnya dengan sering melihat kenikmatan orang lain, akan menimbulkan rasa ingin mengeluh.

Hidup bahagia bisa diraih dengan laku yang kita mampu. Tidak selalu hal-hal yang bersifat heroik dan membutuhkan biaya besar saja, karena yang terpenting, kita menyadari bahwa sejatinya hidup hanyalah singkat. Kita tidak selamanya di muka bumi ini. Jalani saja hidup dengan sederhana dan fokus pada nikmat yang kita terima.

***

Rizal Taufiq, Seorang guru ndeso yang aktif menulis di media sosial. Ia juga adalah seorang ayah dari dua anak cerdas. Bisa dihubungi melalui email rizaltaufiq.official@gmail.com atau Instagram @rizaltaufiqh