Oleh : Zamroni A. Umar (Wk. Sekretaris PCNU Kab. Mojokerto)

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: “وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ”

 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumulloh,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah, dan sekuat tenaga menjauhi larangan-larangan yang sudah ditetapkan oleh Nya. Mari untuk senantiasa menjaga ketetapan hati untuk mengikuti ajaran agama dengan mengikuti 4 madzhab dalam bidang fiqh, 2 Imam dalam bidang tashawuf dan beraqidah sesuai ajaran Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Di sertai dengan permohonan kepada Nya agar senantiasa memberikan pertolongan / maunah dan Hidayah Nya, niscaya kita akan di mudahkan oleh Allah dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan harapan, Allah akan menempatkan kita bersama dengan kekasih-NYA di surge yang penuh kenikmatan, Amin ya Rabbal Alamiin.

Hadirin Jamaah Jumat, Rahimakumullah,

Di dalam kitab I’anatuth-Thalibin karya Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati pada Bab Luqatah, diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam meneteskan air mata.

Adalah Abu Dujanah Radhiallahu’anhu sahabat Nabi dari kabilah Khazraj yang dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara haram. Suatu hari, usai salat shubuh berjamaah bersama Rasulullah, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa mengikuti wirid dan doa ba’da shalat yang dipanjatkan oleh Rasulullah.

Hadirin

Mengetahui hal ini, Rasulullah bertanya pada tentang penyebab kebiasaan Abu Dujanah itu. “Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak memiliki permintaan yang perlu engkau panjatkan ke hadirat Allah sehingga engkau sering meninggalkan masjid sebelum aku selesai berdoa?” tanya beliau.

Abu Dujanah menjawab, “Begini Rasulullah, Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apapun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.”

Maa’asyiral Muslimin, Rahimakumullah ….
Betapa usaha keras yang dilakukan oleh sahabat Abu Dujanah untuk menjaga diri dan keluarganya agar tidak kemasukan makanan-makanan yang haram. Pernah suatu ketika anaknya kedapatan memakan kurma yang jatuh dari pohon tetangganya itu. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan kurma yang terlanjur dimakan tadi dari mulut anaknya.
Sahabat Abu Dujanah berkata pada anaknya :

“Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak. Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.” Mendengar ini, seketika Anaknya menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena menahan rasa lapar yang amat sangat.

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah …

Mendengar cerita itu, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki munafik.

Kemudian Rasulullah mendatangi pemilik pohon kurma. Rasul berkata :, “Apa bisa engkau menjual pohon kurma itu? Aku akan membelinya dengan pohon senilai 10 kali lipat. Pohon itu terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.”
Laki-laki munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan ingin dibayar saat ini juga.”
Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milikmu yang jenisnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Kemudian terjadilah kesepakatan akad jual beli antara keduanya. Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah.

Rasulullah kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Sahabat Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya. Lalu menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

Ia berkata : “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”
Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, saat ini rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara.

Hadirin, Jamaah jumah Rahimakumullah

Perlu kita ingat kembali Akibat makan makanan haram, antara lain :
Doa-doanya tidak dikabulkan
Merusak hati dan akalnya
Amalan tidak diterima
Penyebab masuk neraka
Mengurangi iman dalam hatinya
Merusak Keturunan
Mari kita jaga diri kita dan keluarga kita masing-masing dari memakan makanan haram, mencari sumber rizki yang berasal dari perbuatan haram dan Berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkat rizki halal yang pasti akan memberikan keberkahan dan kebaikan bagi kita semua.

Semoga, sedikit keterangan ini bermanfaat bagi kita semua .

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Related Posts

NU Online Mojokerto