BAB Tiga Perkara Kitab Nashoihul Ibad: Pasal 9 & 10

Pasal 9: Hidup, Berpisah dan Balasan

“Wahai Muhammad! Hiduplah sekehendakmu, karena engkau akan mati; Cintailah orang yang kamu kehendaki untuk dicintai, karena engkau akan berpisah dengannya; dan berbuatlah sekehendakmu, namun sesungguhnya kamu akan menerima balasannya.”

Jika diumpamakan seperti es batu, maka umur itulah sifatnya seperti es batu. Es batu jika sudah dikeluarkan dari kulkasnya, baik itu dipergunakan untuk suatu kemanfaatan ataupun tidak digunakan sama sekali, ia akan meleleh habis sedikit demi sedikit dan akhirnya es batu itu menjadi tidak ada. Itulah gambaran dari umur kita.

Setelah kita dilahirkan ke alam dunia, baik dipergunakan untuk ibadah ataupun tidak dipergunakan sama sekali dan berujung sia-sia begitu saja, maka yang namanya umur sedikit demi sedikit pasti akan habis. Habisnya umur adalah melalui kematian.

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad SAW

“Ya Muhammad, hiduplah sesukamu baik kamu pergunakan hidupmu untuk ibadah ataupun engkau pergunakan untuk maksiat, tetap yang namanya umur itu pasti akan habis. Habisnya umur ujungnya adalah kematian. Cintailah apa yang kamu cintai, tapi ingatlah kamu pasti akan berpisah dengan apa yang kamu cintai.”

Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengatakan cintailah apa yang kamu cintai tapi ingat kamu pasti berpisah dengan apa yang kamu cintai. Cinta harta silahkan, tapi yang perlu diingat adalah kita nanti pasti akan berpisah dengan harta yang kita cintai tersebut. Terkadang, manusia masih hidup tetapi hartanya hilang. Terkadang pula hartanya masih bergelimang, tetapi manusia tersebut meninggal dengan kondisi hartanya tetap ada yang kemudian berpisahlah ia dengan hartanya.

Perpisahan yang sangat menyakitkan ialah ketika kita merasa memiliki dan terlalu dalam mencintai. Ketika terlalu dalam mencintai, maka sakitnyapun akan semakin terasa, tetapi jika kita mencintai dengan wajar, maka ketika berpisahpun akan merasakan sakit yang wajar.

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad SAW “Beramallah kamu sesukamu karena kamu akan dibalas dengan apa yang menjadi amalmu. Karena sesungguhnya semuanya akan dibalas dengan amal perbuatannya sendiri-sendiri.”

Ibarat orang menanam, iapun akan merasakan panen. Maka, barangsiapa menanam kebaikan, maka ia akan mendapati buah kebaikan. Barangsiapa menanam keburukan, maka ia akan mendapati buah dari keburukan tersebut. Ketika kita sigap menolong orang, maka pada suatu saat nanti kita akan sigap ditolong orang. Ini memang sudah menjadi hukum alam atas apa yang disampaikan kepada Nabi. Dari sinilah dapat kita jadikan inspirasi untuk selalu berbuat baik kepada orang lain.

 

Pasal 10: Tiga Golongan Manusia yang Akan Mendapat Naungan Dari Allah di Hari Kiamat

“Tiga golongan akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan Arasy-Nya di saat tidak ada tempat bernaung selain naungan-Nya yaitu: Orang-orang yang berwudlu di waktu dingin; Orang-orang yang jalan ke masjid diwaktu gelap gulita; dan memberi makan orang-orang yang kelaparan.”

Sabda Nabi Muhammad SAW terdapat tiga golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah SWT saat hari kiamat kelak. Bahwa kelak di hari kiamat ketika semua manusia dikumpulkan di suatu tempat maka disitu Allah SWT menurunkan matahari yang seakan-akan matahari tepat berada di atas kepala manusia masing-masing dan disitulah tidak ada pengayoman kecuali orang-orang yang dikehendaki untuk diberikan payung pengayoman oleh Allah SWT.

Orang-orang tersebut yakni orang-orang yang mau melakukan wudhu di waktu yang sangat dingin (di pagi hari) yang mana di waktu tersebut banyak orang merasa berat ketika melakukan wudhu, tetapi ketika seseorang berwudhu di waktu tersebut sedingin apapun, maka ia tergolong orang yang mendapat naungan dari Allah nanti disaat tiada yang mendapatkan naungan.

Kedua, orang yang mampu untuk melangkahkan kakinya menuju masjid di waktu gelap (malam hari). Orang yang mau melangkahkan kakinya, ia akan mendapatkan penghormatan dari Allah SWT yaitu mendapatkan naungan pada saat tidak ada naungan sama sekali kecuali naungan dari Allah. Ketiga, orang yang mau memberikan makan terhadap orang-orang yang lapar. Orang-orang inilah tamu-tamu istimewa di hadapa Allah SWT. (*)

 

*Dinukil dari Pengajian Ramadhan PCNU – Kitab Nashoihul Ibad

 

Related Posts

NU Online Mojokerto