Wujud Syukur Orang Tua adalah Mendidik Anak Agar Taat

NU Online Mojokerto — 

Beberapa orang tua sangat mengiginkan pernikahan mereka dikarunai anak turun. Bahkan ada yang sampai melakukan terapi untuk bisa mendapatkan keturunan. Kadang juga, orang menyepelekan keturunan dengan melakukan zina sehingga lahir anak di luar pernikahan yang sah. Hamil tentu menjadi proses panjang dan perjuangan seorang ibu. Tetapi perjuangannya tak hanya dengan melahirkan sang anak ke dunia akan tetapi perlu untuk mendidik dan membimbingnya.

 

Salah satu bentuk syukur orang tua ketika mendapatkan anak adalah dengan mendidik ilmu agama dan dunia agar bisa bertahan hidup. Meski berat, orang tua akan berusaha sekuat tenaga agar pendidikan anak terpenuhi. Bahkan tak jarang orang tua kita rela untuk menjual atau bahkan berhutang ke tetangga agar kita bisa bersekolah atau mondok. Orang tua sebetulnya tak menuntut apa-apa kepada anak, cukup anak tersebut menjadi baik, taat, dan patuh terhadap kedua orangtuanya.

 

KH Falaqul Alam dalam tausiahnya di Majelis Taklim Raudhotul Karim Desa Beloh menyampaikan bahwa jangan sampai orangtua menyesal di akhirat nanti. Sebab, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT mengapa tak mengajarkan anak khususnya tentang ilmu agama (sholat, fiqih dll). KH Falaqul Alam juga menyampaikan bahwa kini dunia mencari orang yang pintar, akan tetapi pintar pun bukan jaminan.

 

Saat ini sudah banyak orang yang pintar akan tetapi memanfaatkan kepintarannya untuk membodohi orang lain. Ada istilah orang pintar belum tentu cerdas. Cerdas disini memahami apa yang ada dengan berbagai sudut pandang, sehingga keputusan atau tindakannya dapat menjadi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Salah satu contoh orang cerdas adalah kisah sahabat Nabi Muhammah SAW yakni Abu Bakar As Shiddiq yang paham turunnya ayat Al-Qur’an terakhir tentang sempurnanya agama islam. Banyak sahabat yang bersuka cita karena Islam sudah jaya, berbeda dengan Abu Bakar As Shiddiq yang menangis. Abu Bakar As Shiddiq paham Nabi Muhammad akan segera kembali karena tugasnya sudah selesai. Hidup itu harus banyak membaca yakni membaca tulisan, keadaan dan kehidupan. Tapi banyak yang tak bisa membca keadaan dan kehidupan. Maka ajarkanlah Al-Qur’an kepada anakmu agar paham agama, cerdas, dan berperilaku baik.

 

KH Falaqul Alam mengutip doa yang sering kita minta yakni “Ya Allah, Berikanlah Kami Generasi-Generasi yang terbaik.” KH Falaqul Alam menyampaikan bahwa kita tidak butuh anak yang kaya, cerdas, cantik, ganteng tetapi membutuhkan anak-anak yang baik (perilaku, cara berpikir, dan hati). Orang tua akan bahagia bila anak berbakti dan memberi perlakuan baik.

 

Tentunya kini sangat mudah memperoleh pendidikan untuk anak, akan tetapi biaya menjadi persoalan. K.H Falaqul A’lam menyampaikan bahwa tak perlu risau akan tingginya biaya pendidikan agama anak. Sudah banyak pondok yang murah dan bisa mengakomodir kemampuan orang tua. Komunikasi dengan kiai/bu nyai penting karena mereka yang akan mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi paham ilmu agama, taat dan cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

 

Pesan terakhir K.H Falaqul A’lam menceritakan sebuah kisah Nabi Ya’qub yang sebelum meninggal mengumpulkan semua anaknya. Nabi Ya’qub memberi pertanyaan kepada anak-anaknya “apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?”. Anak-anaknya pun menjawab “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan Nenek Moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. Mengapa hal ini ditanyakan oleh Nabi Ya’qub, karena dalam hidup itu , jangan sampai salah apa yang kamu imani. Bila salah yang dipercaya, maka akan habis dirimu. Ibaratnya jangan sekali-kali percaya dengan penipu, maka akan hancur. Kadangkala manusia juga banyak menipu karena banyak dari apa yang kita sampaikan dan perbuatan kita tidak sesuai satu sama lain. Karena kita kadang labil bisa dipercaya kadang tidak maka hanya Allah SWT yang bisa dipercaya dan disembah. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bisa memberi pendidikan terbaik kepada anak-anak kita.

 

Kontributor : Moch. Taufiq Zulmanarif (LTN NU Trowulan)

Related Posts

NU Online Mojokerto