Sinergi Dengan Brimob, PRNU Kunjorowesi Adakan Ngaji Rutinan Bareng

Ngoro, NU Online Mojokerto – Di era milenial seperti saat ini, banyak pengaruh luar yang menyebabkan kita jauh dari peradaban apalagi mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta, kita yang awam apabila tanpa didasari ilmu agama yang kuat pasti akan mudah terbawa arus jaman bahkan tertindas oleh keadaan yang bisa menjerumuskan.

 

Untuk menyikapi problematika lingkungan warga sekitar agar tidak terpengaruh oleh budaya dunia luar, Pimpinan Ranting (PR) Nahdlatul Ulama’ Ranting Kunjorowesi khususnya Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama’ (LDNU) mengadakan ngaji rutinan setiap Selasa Wage malam, setelah Maghrib sampai setelah Isya’ yang bertempat di Aula Kantor Sekretariat NU Ranting Kunjorowesi atau Rumah Abah Suhadi.

 

Nampak Jama’ah hadir dalam pengajian ini, diantaranya para jajaran pengurus ranting NU, pengurus dan anggota Banom ranting, pejabat pemerintah desa, warga sekitar, dan anggota kepolisian dari unsur Brimob. Mereka bersama-sama bersinergi untuk menjalin kebersamaan dalam menuntut ilmu agama.

 

Acara dimulai setelah sholat Maghrib diawali dengan pembacan sholawat rotibul haddad, kirim do’a atau tahlil dan dilanjutkan dengan pengajian kitab Nashoihul Ibad yang dibimbing langsung oleh ketua NU Ranting Kunjorowesi Al Ustad Gus Muhyiddin.

 

Akp. H. Suhadi selaku ketua pelaksana juga selaku anggota brimob mengatakan, bahwasannya kegiatan ngaji rutinan ini sengaja diadakan dengan maksud dan tujuan hanya ingin mengajak warga nahdliyin yang ada di Kunjorowesi untuk bersama-sama mencari tambahan ilmu agama sebagai bekal kelak kita di ahirat nantinya. “Selain untuk menambah ilmu agama, acara ini juga sebagai ajang silaturrahmi antara Brimob dan warga nahdliyyin yang ada di sekitar, sengaja kami menggandeng Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama’ karena sesuai bidangnya, disitu banyak ustad dan kyai yang siap untuk mimbimbingnya,” terangnya.

 

Dalam ngaji rutinan kitab Nasoikhul Ibad yang disampaikan oleh Gus Muhyidin, menerangkan tentang hikayah sebab-sebabnya Nabi Adam dan Siti Hawa dikeluarkan dari surga karena kena bujuk rayunya iblis, sehingga berani melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Nampak rasa penyesalan dari diri Nabi Adam, ketika Nabi Adam berdoa memohon ampunan dari Allah. “Ya Allah saya memohon ampunan-Mu, atas kesalahan yang telah saya perbuat, yang telah sengaja melanggar aturan yang sudah Engkau tetapkan. Maka, saya menyadari bahwasanya ini murni kesalahan dari diri pribadi saya,” pinta Nabi Adam.

 

Kalau diruntut dari sejarah tadi, bahwasannya sebab-sebab Nabi Adam dikeluarkan dari surga sebenarnya adalah karena bujuk rayunya iblis. Akan tetapi, ketika beliau memohon ampunan kepada Allah, Nabi Adam tidak mau menyalahkan iblis. Padahal iblislah yang menyebakan dirinya dikeluarkan, bahkan terpisah dengan ibu Hawa.

 

“Dari sini kita dapat menyimpulkan dan menggarisbawahi bahwasanya, apabila ketika kita melakukan kesalahan jangan sampai kita menyalahkan, atau bahkan mencari kesalahan dari orang lain, sebab kesalahan itu sejatinya datang dari kita pribadi,” terang Gus Muhyidin.

 

Harapannya semoga kita bisa menteladani dari kisah tersebut sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri kita masing-masing.

Pewarta: Hasan-Ngoro

Related Posts

NU Online Mojokerto