LDNU Kutorejo Studi Banding ke MWCNU Jetis

Jetis, NU Online Mojokerto – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) MWCNU Kutorejo, Senin (17/01) siang melakukan studi banding ke MWCNU Jetis. Studi banding ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi warga nahdliyin dalam kegiatan lailatul ijtima’. Dipilihnya MWCNU Jetis sebagai jujugan karena MWCNU yang berada di utara sungai brantas ini dianggap sukses mengerahkan warga untuk hadir dalam salah satu kegiatan rutin tersebut.

 

Bertempat di TPQ Al-Furqon yang juga kediaman rais MWCNU Jetis, KH Sholihin di Dusun Pasinan, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, pengurus LDNU Kutorejo menyaksikan langsung proses rapat koordinasi pra lailatul ijtima’ yang digelar pengurus MWCNU Jetis.

 

“Alhamdulillah, kami diundang studi banding tepat saat rapat koordinasi. Kami jadi bisa melihat langsung proses rapat dan apa saja yang dibahas di dalam rapat persiapan lailatul ijtima’ ini,” kata Ketua LDNU Kutorejo, Akhmad Jazuli.

 

Dalam rapat tersebut diketahui jika bulan ini merupakan lailatul ijtima’ pertama yang digelar setelah adanya pandemi covid-19. Sebelum pandemi covid-19, jumlah jamaah yang hadir dalam lailatul ijtima’ mencapai 2500 hingga 3000 jamaah. Akan tetapi karena adanya pandemi covid-19, kegiatan yang mengumpulkan warga nahdliyin dari berbagai ranting di Kecamatan Jetis ini harus berhenti sementara.

 

“Target kami di bulan ini bisa menghadirkan 1500 jamaah pada lailatul ijtima’. Karena ini masih pertama setelah pandemi,” jelas Ketua LDNU Jetis, H. Hasan Basri.

 

Warga asal Desa Lakardowo ini menjelaskan, diantara kunci sukses banyaknya warga yang hadir dalam lailatul ijtima’ adalah rapat pra lailatul ijtima’ yang digelar dengan menghadirkan seluruh pengurus ranting NU, MWCNU, serta badan otonom yang ada di tingkat kecamatan. Rapat ini juga untuk melakukan estimasi jumlah jamaah yang hadir, serta strategi dan mengurai kendala untuk menghadirkan jamaah.

 

“Karena tidak ada koordinasi, bisa jadi jumlah berkat yang disiapkan tuan rumah tidak cukup untuk dibagikan ke jamaah. Demikian juga sebaliknya, kalau kelebihan, kan jadi mubazir,” kata H. Hasan Basri sambil tersenyum.

 

Sementara itu, Ketua MWCNU Jetis H. Usail menambahkan, sebagaimana di wilayah lainnya, MWCNU Jetis juga tidak seramai beberapa tahun terakhir, berkat adanya kebersamaan diantara seluruh pengurus, baik yang berada di MWCNU, ranting, maupun badan otonom yang ada di wilayah Jetis, semakin hari warga nahdliyin yang hadir semakin meluber.

 

“Dulu, jika ada ranting yang kesulitan untuk mendatangkan 100 jama’ah dari rantingnya, maka rais dan ketua MWCNU akan mendatangi ranting tersebut. Kemudian sharing dan mencari solusi kendala yang ada,” kata H. Usail.

 

Contoh kendala yang pernah dialami, sambung H. Usail, ada ranting yang kesulitan mobilisasi karena tidak adanya kendaraan. Maka bersama-sama dengan pengurus MWC dipetakan, siapa saja di desa setempat yang punya kendaraan, kemudian akan didekati dan diminta sumbangsih mobilnya. Termasuk juga memetakan simpul-simpul atau tokoh yang bisa mengajak orang di desa tersebut. Dengan komunikasi intens dan saling mendukung diserta silaturrahim yang rutin, menjadi kunci maraknya kegiatan lailatul ijtima’ di Kecamatan Jetis.

 

Rombongan studi banding LDNU Kutorejo ini dipimpin Wakil Ketua bidang dakwah, Kyai Imam Ghozali, sekretaris MWCNU, Sulthon, anggota LDNU Kutorejo serta didampingi wakil sekretaris PCNU Kabupaten Mojokerto, Zamroni Ahmad.

 

Lailatul ijtima’ merupakan salah satu ritual khas NU yang menjadi salah satu tolok ukur ghiroh ke-NU-an di salah satu wilayah. Lailatul ijtima’ juga menjadi salah satu forum bertemunya jamaah dan jam’iyah di salah satu wilayah. Selain diisi dengan kegiatan ritual keagamaan, forum lailatul ijtima’ juga menjadi salah satu forum untuk melakukan sosialisasi program kerja NU.

 

 

Related Posts

NU Online Mojokerto