Home / KHUTBAH

Rabu, 5 Januari 2022 - 05:17 WIB

KHUTBAH JUMAT “MENGGAPAI KEBAHAGIAAN DUNIA”

Oleh : Gus Zamroni Umar (Wakil Sekertaris PCNU Kabupaten Mojokerto)

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ

 

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumulloh,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah, dan sekuat tenaga menjauhi larangan-larangan yang sudah ditetapkan oleh Nya. Di sertai dengan permohonan kepada Nya agar senantiasa memberikan pertolongan / maunah dan Hidayah Nya, niscaya kita akan di mudahkan oleh Allah dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumulloh,
Dalam menjalankan rutinitas kehidupan, sudah barang tentu manusia akan mengharapkan kebahagiaan. Namun persepsi dan definisi kebahagiaan manusia itu tetap beragam. Bahagia memiliki makna yang sama dengan perasaan bahagia, kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir dan batin.

Dalam terminologi bahasa Arab, kata bahagia juga berarti sa’adah (سعادة), yang bermakna ‘Ketiadaan derita’ (خلاف الشقاوة).
Imam al-Ghazali di berbagai kitabnya menggambarkan tentang makna kebahagiaan. Beliau menjelaskan bahwa bahagia atau kebahagiaan merujuk pada istilah sa’adah, yang berhubungan dengan dua dimensi eksistensi; dunia dan akhirat.
Hakikat makna kebahagiaan terletak pada kebahagiaan akhirat. Tahapan kebahagiaan ini, menurut al-Ghazali ialah nikmat yang tidak perlu untuk dipikirkan, akan tetapi cukup diyakini. Sebab meyakininya saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri atau nantinya akan melahirkan kebahagiaan.
Dalam al-Qur’an kata bahagia bisa dirujuk dari berbagai istilah, seperti; ‘pemberian taufik ke jalan yang mudah’ (QS. Al-A’la: 8), ‘tempat yang disenangi’ (QS. Al-Qamar: 55), ‘negeri akhirat’ (QS. Al-Qasas: 83), ‘darussalam’ (QS. Yunus: 25), ‘hasil yang baik’ (QS. Al-An’am: 135), dan masih banyak lagi tentang istilah dalam al-Qur’an yang menggambarkan tentang kebahagiaan.
Beberapa ayat al-Qur’an yang merujuk pada makna ‘bahagia’, seperti;

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيْدٌ

 “Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (QS. Al-Hud: 105)

وَأَمَّا ٱالَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي اٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَاٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Baca Juga:  KHUTBAH JUMAT ; AMALIYAH BULAN RAJAB

 

“Ada pun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu mengehendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”. (QS. Al-Hud: 108).

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumulloh,
Ada beberapa tindakan yang perlu kita lakukan agar kita senantiasa bisa merasakan kebahagiaan, antara lain :

Tindakan pertama yang dilakukan jika seseorang ingin mendapatkan kebahagiaan adalah tidak boleh melihat orang yang kenikmatan duniawinya berada di atas kita.
Nabi Muhammad bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Melihat ke atas, tidak lah perbuatan yang serta merta di larang oleh Islam. Tetapi Motivasi / keniatan dan yang mendorong nya lah yang menjadi pertimbangan nya. Seseorang yang memandang ke atas dengan hati yang damai, dalam rangka menelaah proses perjuangan seseorang yang mendapatkan kesuksesan, kebahagiaan dan kebaikan, maka hal itu di perbolehkan. Karena hal ini akan memunculkan semangat kerja, optimisme dan mental yang tangguh.
Tetapi jika perbuatan melihat ke atas itu di dasarkan hati yang penuh dengan hawa nafsu, mengakibatkan munculnya rasa hasud / iri dengki, hilangnya nikmat tersebut pada seseorang dan rasa tiada bersyukur pada nikmat Allah, maka inilah yang dilarang dalam agama. Sifat inilah yang di maksudkan oleh Rasulullah dalam hadis ini, sehingga beliau melarang seorang muslim untuk melihat seseorang yang ada di atasnya.

Maka, bersyukurlah dengan apa yang telah kau miliki saat ini. Tidak perlu iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Tidak perlu juga memaksakan ingin memiliki apa yang orang lain punya. Tetapi, lihatlah orang-orang yang berada di bawahmu. Masih banyak orang yang tidak seberuntung kamu. Oleh karena itu, sering-seringlah berinstropeksi diri dengan memandang orang yang berada di bawahmu. Dengan demikian kamu akan lebih mensyukuri atas segala nikmat yang telah Allah swt. berikan kepadamu. Jangan justru selalu memandang orang yang berada di atas mu. Mereka yang lebih secara materi denganmu. Karena hal ini justru akan menjauhkan mu dari kata syukur.

Tindakan kedua, yang dilakukan agar seseorang senantiasa dalam kebahagiaan adalah : jangan samakan atau bedakan diri kita dengan siapapun. Biarkah segalanya berjalan natural. Kita bukanlah mereka, mereka bukan kita.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah ,,,
Seperti yang kita ketahui dan yakini bahwa setiap orang sudah mempunyai takdirnya masing-masing. Jauh sebelum kita terlahir ke dunia Allah telah menentukan takdir kita, entah itu tentang rezeki, jodoh, hingga maut yang akan menjemput. Tugas kita adalah menjemputnya, berikhtiar semaksimal mungkin untuk mendapatkan yang terbaik dalam menjalankan kehidupan ini.
Jika saat ini kita belum berada di titik kesuksesan seperti yang lain, mungkin usaha kita belum maksimal. Jika saat ini keinginan kita belum juga terwujud meskipun sudah berusaha maksimal, yakinlah bahwa Allah telah menetapkan waktu terbaik untuk mewujudkannya.
Jangan lelah berjuang, terus melangkah! Jangan lelah berdoa, terus berpasrah! Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Allah berfirman :

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha: Kurban dan Solidaritas Kita di Masa Pandemi

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Hadiirin jamaah jumah Rahimakumulloh,,,
Langkah ketiga agar seseorang mendapatkan kebahagiaan adalah berdamai dengan masa lalu. Belenggu masa lalu sering kali menghalangi seseorang untuk maju. Belenggu itu bisa berupa pengalaman buruk karena kelalaian dan kesalahan; bisa juga berupa romantisme sejarah karena prestasi dan kejayaan di masa silam. Padahal, nilai kehidupan seseorang ditentukan oleh apa yang telah ia kerjakan. Allah SWT berfirman :

وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

”Dan kamu tidak dibatasi kecuali dengan apa yang telah dikerjakan.” (QS Yasin [36]: 54)

Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya tentang sesuatu yang paling jauh dari keberadaan mereka sekarang. Di antaranya, ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Ia lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tapi yang paling benar adalah masa lalu. Karena, masa lalu tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh sebab itu, setiap orang haruslah menyikapi masa lalunya secara arif. Kearifan di sini bisa diumpamakan seperti seorang sopir. Ketika mengendarai mobil, si sopir sesekali melihat kaca spion. Kaca spion digunakan untuk melihat dan mengantisipasi kondisi di belakang kendaraan, agar perjalanan ke depan berjalan mulus. Meski rutin melihat spion, fokus pandangan sopir tetap ke depan.
Hadirin jamaah jumah rahimakumullah ,,,
Semua hal di atas , marilah kita sandarkan pada pondasi utama kebahagiaan yakni senantiasa mempunyai hati yang berhusnudzan pada Alloh SWT. Bahkan jika harus mati pun, kita wajib tetap husnudzon kepada Allah. Dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, Rasulullah bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

Janganlah seorang pun di antara kalian yang mati kecuali dalam keadaan berhusnudzon kepada Allah.
Akhirnya, marilah kita berikhtiar untuk menggapai kebahagiaan bagi kita ; kebahagiaan diri, istri dan anak-anak kita. Kebahagiaan hati kita dalam keadaan apapun adalah surga kita di dunia ini.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Share :

Baca Juga

KHUTBAH

Khutbah Jumat ; Memakmurkan Tempat Ibadah

KHUTBAH

Khutbah Jum’at : Berusaha Menjadi Baik

KHUTBAH

Menyongsong Kematian Yang Khusnul Khatimah

KHUTBAH

Khutbah Jum’at : Ujian Yang Menyusahkan dan Yang Menyenangkan Hati

KHUTBAH

Khutbah Jum’at: Menyambut Ramadhan dengan Ilmu

KHUTBAH

Khutbah Jumat Ramadhan 1443 H: Surga Merindukan

KHUTBAH

KHUTBAH JUMAT ; AMALIYAH BULAN RAJAB

KHUTBAH

MENJAGA DIRI DARI MAKANAN HARAM