Pacet, NU Online Mojokerto – Dalam Musyawarah Nasional Jam’iyyah Ruqyah Aswaja di Kampus IKHAC Pacet (24/09) KH. Said Aqil Siroj yang didaulat sebagai pembicara menjelaskan bahwa ruqyah sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa Yunani, Romawi atau Persia. Pada zaman Nabi, ruqyah diperbolehkan asalkan menggunakan ayat ayat Al Qur’an agar umat tidak jatuh ke dalam praktik kesyirikan.
Tetapi perkembangan selanjutnya, kata KH. Said Aqil Siroj, para ulama berbeda pendapat terhadap praktik ruqyah. Ada yang menyatakan bahwa ruqyah hanya boleh dengan mengambil dari ayat Al Qur’an. Sementara lainnya berpendapat, diperbolehkan menggunakannya diluar ayat Al Qur’an. Bahkan ada juga yang memperbolehkan menggunakan bacaan bacaan selain bahasa Arab.
Hal ini merujuk pada saat Siti Aisyah sakit, kemudian diruqyah orang Yahudi. Ketika ketahuan oleh Abu Bakar, maka perempuan Yahudi itu ditanya, “apakah engkau meruqyah menggunakan kitabullah? Dan dijawab oleh wanita itu bahwa ia melakukan ruqyah dengan kitabullah. Dan Abu Bakar membolehkan.
Ulama ulama banyak menggunakan hizib hizib seperti hizib Syekh Hasan Syadzili dan lain lain. “Jadi, ruqyah itu merupakan khazanah keilmuan umat Islam” terang KH. Said Aqil Siroj.
Dalam sejarah bangsa Indonesia, ulama ulama meng-Islamkan praktik praktik ruqyah yang dilakukan oleh para raja atau orang orang sebelum atau setelah masuk Islam. Seperti yang dilakukan terhadap Raja Siliwangi saat menikah dengan Nyai Subalarang. Saat melakukan mantra aji, seketika ilmunya luruh. Tetapi kala mantra ditambahkan bismillahirohmanirrohim maka kehebatannya menjadi bertambah.
Lebih jauh, kata Kiai Said, dulu di Cirebon, ilmu ilmu kesaktian semua menjadi macet. Kecuali ilmu itu diawali dengan bismillahirohmanirrohim dan diakhiri kalimat tauhid.
Dengan ruqyah, maka akan menjadikan khazanah kekayaan kebudayaan bangsa. Orang China walaupun kedokterannya maju tetapi tidak meninggalkan pengobatan tradisionalnya. Karenanya ruqyah harus terus dipelihara.
“Tadi Gus Wahab meminta saya untuk menjadi pembina. Insya Allah Kyai Asep, Pak Haidar dan saya siap” ujar Kiai Said disambut tepuk tangan anggota JRA.












