Takmir Masjid Al-Hidayah Tampungrejo, Ramadan dan Ekspresi Kegembiraan

Puri, NU Online Mojokerto – 

Ramadan, bulan penuh ampunan, keberkahan, keistimewaan dan kemuliaan. Sudah sepatutnya muslim bergembira. Ragam ekspresi kegembiraan dilakukan oleh muslim dalam menyambut Ramadan. Diantaranya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan intensitas ibadah; tadarus Al-Qur’an, sedekah, menyelenggarakan majelis-majelis ilmu; baik oleh masyarakat perkotaan pun masyarakat perdesaan. Di masjid-masjid maupun di perkantoran. Semua mempunyai ekspresi kegembiraan dalam mengisi Ramadan.

 

Begitu juga dengan Takmir Masjid Al-Hidayah beserta Ranting NU Desa Tampungrejo yang berkolaborasi menggelar kegiatan rutin yang khas tiap Ramadan tiba, berupa ‘balagh’ (pengajian) Kitab Kuning. Balagh kitab ini bertempat di serambi Masjid Al-Hidayah yang berlokasi di Desa Tampungrejo Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.

 

Jadwal kegiatan ini dimulai dari tanggal 2 sampai dengan 23 Ramadan 1443 H setiap menjelang berbuka sekira jam 16.30 sampai dengan jam 17.30 WIB.

Setelah kegiatan ‘mbalah kitab’ selesai, jamaah yang berjumlah tak kurang dari 75 orang tiap harinya ini menikmati menu buka bersama yang telah tersedia. Bagi masyarakat yang melintasi masjid ini pada jam-jam menjelang berbuka, maka sangat diperkenankan untuk mampir dan mengikuti kegiatan ‘ngaji’ maupun berbuka puasa bersama.

 

Pada Ramadan tahun ini kitab yang dikaji adalah Kitab Sulam at-Taufiq. Pembaca kitab secara bergantian oleh; (1) KH. M. Ghufron (2) Ustaz Drs. H. Saifudin dan (3) ustaz Khudori.

Yang patut diapresiasi bahwa kegiatan ini sudah berjalan 11 (sebelas) tahun sejak tahun 2011. Kegiatan ini memang bukanlah hal baru. Apalagi di dunia pesantren, tentu ini sudah menjadi hal biasa dilakukan. Namun pada masyarakat perkampungan maka ini perlu menjadi teladan karena di saat kegiatan ‘mbalah’ kitab mulai berangsur-angsur menurun maka di tempat ini bisa bertahan dengan waktu yang cukup panjang. Salut dan perlu diapresiasi. Mudah-mudahan bisa tetap lestari dan tidak hanya di bulan Ramadan saja.

 

Kegiatan ‘mbalah kitab’ tidak boleh dipandang remeh, misalnya; cara ngaji kuno, kurang menarik atau sejenisnya. Justru ini menjadi penting untuk digalakkan kembali karena memiliki dampak yang baik bagi kondisi beragama masyarakat. Minimal bisa merubah cara pandang beragama yang semula hanya “menurut ustaz ini”, namun sedah pada tahap “menurut kitab ini”.

 

Penulis: Fahrul

Related Posts

NU Online Mojokerto