Pacet, NU Online Mojokerto-
Selang dua hari dari meninggalnya Bu Nyai Faichah, KH. Mahfudz Syaubari, Pengasuh PP. Riyadul Jannah Pacet, pergi ke haribaan Allah menyusul istri tercinta pada selasa (16/8). Kabar duka secara berantai terkirim di grup grup whatsapp Pengurus dan warga Nahdliyin Mojokerto. Ucapan duka turut menyertai atas kepergian Kiai yang juga seorang pengusaha itu. Tak luput pula KH. Abdul Adzim Alwi, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto berduka atas kepergian sesama alumnus Ploso itu.
Dari pantauan awak media, pada pemakaman KH. Mahfudz Syaubari selasa sore, berjubel jubel kaum muslimin mengantarkan kepergiaan jenazah KH. Mahfudz Syaubari. Hal ini menandakan bahwa banyak diantara kaum muslimin merasa kehilangan sosok Kiai ini.
Perlu diketahui, KH. Mahfudz Syaubari MA lahir pada tanggal 20 – Nopember 1954 di Demak Jawa Tengah. Belajar di berbagai Pondok Pesantren besar di Jawa Tengah dan terakhir di Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur sebelum mendalami ilmu di Dr Assayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliki Makkah.
KH. Mahfudz Syaubari ini selain menjadi pengasuh PP Riyadlul Jannah Pacet, juga menjadi Pembina Rutin berbagai Majlis Ta’lim di Surabaya. Dan juga Ketua RMI Jawa Timur Periode 2002 – 2007. dan team asistensi Wilayah Luar Jawa RMI Pusat.
KH. Mahfudz Syaubari dikenal sebagai figur ulama intelektual yang sangat kuat menanamkan jiwa kemandirian pada semua santri, baik secara pribadi atau lembaga terbukti dengan pembangunan dan perawatan pondok yang beliau tangani sendiri dengan melibatkan seluruh santri tanpa terkecuali. Bangunan – bangunan yang berdiri di lingkungan pesantren kebanyakan adalah murni hasil karya santri.
Seluruh santri beliau arahkan sesuai dengan bakat dan minatnya masing – masing, mulai dari kuliner, pertokoan, pertanian, peternakan, perikanan dan lain lain. Beliau tidak senang santrinya menganggur atau menggantungkan hidupnya pada orang lain baik swasta atau pemerintah.
KH. Mahfudz Syaubari tidak pernah bosan menanamkan dan mendoktrin santri untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan. “Lebih baik jadi raja kecil dari pada jadi budak besar, dengan menjadi buruh pabrik atau pegawai negeri” kata bijaknya dulu.












