Refleksi Harlah PMII ke-62: Ini Pesan Ketua IKAPMII Mojokerto

Pacet, NU Online Mojokerto –

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dibentuk dalam rangka menjadi sayap pergerakan pemuda Nahdlatul Ulama di lingkup mahasiswa. Ini menjadi tanggung jawab mahasiswa dalam menyebarkan faham Ahlussunah wal jamaah an nahdliyah khususnya yang paling riskan ada di Perguruan Tinggi umum. Mahasiswa punya peran penting dalam menentukan citra wajah negara ini. Tergantung pergerakan mahasiswa, khususnya PMII.

Dalam perkembangannya, PMII telah turut serta mewarnai secara aktif dalam pergerakan pemuda di Indonesia. Dari beberapa kader terbaik PMII sudah banyak yang ikut andil dalam pembangunan nasional. Sebut saja Khofifah Indar Parawansa, Muhaimin Iskandar, Hanif Dhakiri, Marwan Jafar, Imam Nahrawi, Lukman Hakim S, Gus Yaqut, dll.

Tepat pada tanggal 17 April 62 tahun lalu, PMII lahir dari kegelisahan kalangan mahasiswa NU yang resah terhadap keadaan nasional waktu itu. Sekaligus sebagai garda terdepan NU di kalangan mahasiswa.

Dalam rangka refleksi Harlah PMII ke-62 yang diselenggarakan di aula kampus IKHAC Pacet Mojokerto (12/04). Ketua IKAPMII Mojokerto Hidayat, M.Si menerangkan bahwa kekayaan utama aktifis mahasiswa adalah idealisme dan daya kritisnya. Di usia yg ke-62, kekayaan ini harus dipelihara, dipetajam, dan diperkuat semaksimal mungkin. Karena cita-cita dari didirikannya PMII semakin tampak dan dapat dinikmati oleh masyarakat.

Di era disrupsi ini, era di mana ada perubahan-perubahan inovasi yang fundamental dengan cara-cara yang baru. Perubahan-perubahan ini harus kita hadapi dengan cara yang pintar, cerdas, dan baik. Minimal ada tiga cara untuk menghadapi perubahan yang luar biasa ini.

Pertama, kita harus bisa Menerima perubahan ini. Sahabat kita Tidak pantas menolak perubahan ini. Karena jika kita menolak, maka kita akan dimakan oleh perubahan itu sendiri.

Kedua, kita harus mampu menciptakan perubahan. Maka dari itu, kita harus bisa menciptakan perubahan dan selanjutnya kita kuasai.

Setelah itu baru bisa menempuh cara yang ketiga, beradaptasi dengan perubahan itu sendiri. Pemimpin yang kaku, yang saklek tidak akan bisa dapat menikmati perubahan ini.

Oleh karena itu pemimpin harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan masa kini. Maka dari itu, pemimpin harus memiliki ideologi yang kuat dan pengetahuan harus tinggi. Sehingga, kita dapat beradaptasi dengan mudah.

Gerakan-gerakan PMII harus memiliki makna dan tujuan yang jelas. Supaya di usia PMII yang ke-62 ini semakin matang dan harapan masyarakat terhadap PMII akan semakin bisa dinikmati.

Selamat harlah PMII ke-62, semoga di usia ini PMII semakin solid, semakin luas wawasannya, semakin tajam analisisnya, berbasis data dan gerakannya semakin terukur dan bermanfaat untuk masyarakat.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh majelis pembina IKAPMII Mojokerto Prof. Dr. K.H. Asep Saefuddin Chalim, Wakil Bupati Gus Barra, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Adzim Alwi, IKAPMII Jatim Sahabat Yoyok Zakaria, Ketua PC PMII Sahabat Rofii.
Kontributor : Afif – Pacet

Related Posts

NU Online Mojokerto