Peringatan Nuzul Quran, Pemerintah Kota Mojokerto Hadirkan Gus Miftah

Kota Mojokerto – Masjid Al Fattah senin sore (18/04) tampak dipenuhi oleh umat Islam yang tumpah ruah baik di dalam maupun diluar Masjid. Sore ini, Pemerintah Kota Mojokerto bekerjasama dengan Takmir Masjid Al Fattah memperingati Nuzul Quran dengan menghadirkan dai Kondang asal Jogjakarta, Gus Miftah.

Kehadiran Gus Miftah menyedot perhatian publik dikarenakan Gus Miftah memiliki komunikasi yang baik selain dakwahnya mampu menembus dunia remang remang. Karenanya tak salah, setelah menjejakkan kakinya di halaman Masjid, jamaah berebut bersalaman dan mengabadikan di kamera masing masing.

Tampak hadir dalam deretan muka menyambut Gus Miftah, Mbak Ita selaku Wali Kota Mojokerto, Takmir Masjid Al Fattah, Ketua PCNU Kota Mojokerto, Polres Kota Mojokerto, Kodim Mojokerto, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto, Kacabdin Kabupaten Kota Mojokerto dan tamu undangan dari berbagai instansi pemerintah maupun unsur masyarakat.

Mbak Ita, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukurnya atas kedatangan Gus Miftah. Ia meminta doanya agar Kota Mojokerto terus mengembangkan program programnya. Kota Mojokerto, kata Mbak Ita, memiliki keterkaitan dengan Majapahit. Karenanya Kota Mojokerto akan mengembangkan pemerintah yang berdasar spirit Majapahit.

Kota Mojokerto juga memiliki keterkaitan sejarah dengan keberadaan Sukarno. Sukarno pernah bersekolah di Kota Mojokerto. Saat ini, pemerintah kota Mojokerto telah melindungi cagar budaya terkait jejak Sukarno.

” Kami meminta pencerahan kepada Gus Miftah. Sebab selama ini hanya bisa mendengarkan via online. Dan Alhamdulillah sekarang bisa langsung bertatap muka” ucap Mbak Ita.

Dalam ceramahnya Gus Miftah mengingatkan jamaah agar selalu optimis dalam menghadapi kehidupan. Sebab orang optimis selalu mencari peluang ditengah tumpukan masalah. Sedangkan orang pesimis hanya melihat masalah ditengah masalah

“Nabi Yunus dimakan ikan. Ditengah ikan Nabi Yunus tetap optimis dan akhirnya diberi solusi oleh Allah” terang Gus Miftah.

Begitupun dengan kisah Nabi Musa. Saat Firaun memerintahkan semua anak laki Bani Israel dibunuh, Nabi Musa justru selamat bahkan dirawat oleh istri Raja Firaun. Hal ini karena optimisme kepada Allah. Sehingga dalam kehidupannya diberi solusi solusi.

“Gembok dibuat tidak mungkin tanpa kunci. Masalah diberi tidak mungkin tanpa solusi” lanjut Gus Miftah.

Related Posts

NU Online Mojokerto