Perihal Kejumudan

Perihal Kejumudan

Mendengar kata ini, saya jadi teringat masa awal-awal masuk sekolah pasca sarjana. Tugas menulis esai-makalah diberikan, dan tibalah saya menyampaikan tugas dihadapan guru besar dan teman-teman sekelas.

Saat itu, saya ingat betul rujukan saya nyaris semuanya khazanah islam turos abad pertengahan, dan sebagian “kitab kuning.” Lalu sang Profesor itu serta merta mengatakan saya itu jumud, prodak masa lalu, islam abad pertengahan yang belum bisa move on hidup di zaman posmo.

Sang Profesor lalu meminta saya bisa membedakan antara wilayah ulumiddin dan wilayah dirasat islamiyah, sehingga pemahaman terhadap teks bisa lebih kaya dan dinamis, tidak monoton dan searah.

Tentu dituduh jumud, kolot, saya tak terima begitu saja, sayapun berusaha mempertahankan diri, meski sebagian teman kelas ikut menertawakan kondisi ini. Bagi saya, ruang akademis bebas beragumentasi dan saling menghargai dalam ragam pemikiran dan perbedaan.

Lalu saya balik katakan, yang jumud itu justru yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat atau argumentasi,
sehingga orang jadi enggan, bahkan mungkin ‘tak sudi’ menerima ‘the others’ sebagai realitas dari hidup kita yang beraneka. Jadi sebenarnya siapa disini yang paling jumud? Jangan-jangan kita jumud berjamaah?

Karena disitulah mayoritas dari kita seperti sedang bercermin dan melihat rupa buruk kita: ‘intoleransi’, sebagaimana dahulu kebanyakan orang Barat-Kristiani hidup di abad Medieval.

Contoh intoleransi itu, dalam bahasa Charles Peirce, punya alasannya sendiri, yaitu karena mereka malas melakukan prosedur ilmiah (rasional) dalam segala tindakan dan keyakinannya.

Peirce mengklasifikasikan mereka sebagai orang yang cenderung jumud atau ‘a priori’, tanpa toleransi dan bersikap ramah, padahal sebagai metode, ‘a priori’ dituntut menghadirkan rasionalitas dan keramahan. (Milton K. Munitz, Contemporery Analitic Philosopy. New York; Macmilan Publishing Co. Inc. 1981, hal. 40).

Sementara Talal As’ad, sebagai antropolog-agama, metengarai; bahwa penolakan terhadap kebenaran di luar dirinya itu karena mereka tidak mencoba membuka diri untuk dinamis dan terlibat di luar dunianya.

Jadi formulasi pemaknaan terhadap kebenaran yang sangat subyektif dan fanatik itu harus diatasi dengan merunut ke agar geniologi-antropoliginya. Karena menurutnya, pemaknaan apapun terkait agama sejatinya bersifat ’spatio-temporal. (Talal As’ad, Geneologies of Relegion (London;The John Hopkins University Press, 1993, hal. 53)

Lepas dari perdebatan siapa yang sesungguhnya paling jumud itu?, menjelang kelas bubar, saya tetap cium tangan guru besar ini wolak-walik dan beliau termasuk dosen favofit saya di masa-masa menjadi mahasiswa pasca sarjana. Wallahu’alm.

 

Penulis : Aguk Irawan