Lailatul Ijtima’ MWCNU Trowulan, KH. Abd. Adzim Alwi, “Syarat Menjadi NU adalah Cinta”

Lailatul Ijtima’ MWCNU Trowulan, KH. Abd. Adzim Alwi, “Syarat Menjadi NU adalah Cinta”

Trowulan, NU Online Mojokerto – Lailatul Ijtima yang digelar oleh MWCNU Trowulan di Masjid Baitul Muttaqin Dusun Troloyo Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan, Ahad Malam (21/11) terlihat meriah. Hal ini dapat dilihat dari membludaknya warga Nahdliyin memenuhi selain ruangan utama Masjid, hingga aula.

Acara dimulai dengan pembacaan “Ratibul Haddad “ dilanjutkan dengan shalat hajat dan sujud syukur dipimpin oleh K.H Nurul Mubin. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan selawat mahalul qiyam yang dipandu oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama (NU) dari Ranting Temon dan Sentonorejo. Lalu sambutan.

Sambutan pertama oleh K.H. Syaiful Hadi selaku Ketua MWC NU Trowulan. KH. Syaiful Hadi dalam sambutannya menyampaikan lailatul Ijtima di Masjid Baitul Mubin ini menjadi kegiatan lailatul ijtima kedua selama masa pandemi. Warga Nahdliyin harus punya kecerdasan sosial dan spiritual melihat fenomena yang ada. K.H. Syaiful Hadi berharap setiap ranting berdoa agar Gedung MWC NU Trowulan dapat segera selesai dibangun.

Usai sambutan, acara dilanjut dengan mauidoh Hasanah oleh KH. Abd. Adzim Alwi, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto. Saat mauidhah hasanah beliau menyampaikan syarat menjadi warga NU adalah cinta. Siapapun warga NU yang tak punya rasa cinta terhadap NU, maka rasa cintanya masih kurang. Sesuatu yang tak didasarkan pada cinta akan berat. Apabila sesuatu didasarkan rasa cinta maka akan mudah dan bersemangat. Salah satunya mengikuti kegiatan lailatul ijtima. Lailatul Ijtima ini juga menjadi budaya dan aset warga NU. Aset dan budaya ini perlu dijaga bersama yang menjadi ciri khas NU, berbeda dengan organisasi lainnya.

KH. Abd. Adzim Alwi meminta Ketua/Pengurus NU di setiap tingkat harus memberi Al-fatihah sebanyak 7x kepada seluruh warga nahdliyin di wilayahnya agar kompak dan bersatu. Ijazah ini disampaikan KH. Ahyat Halimy kepada KH. Abd. Adzim Alwi. Terkait pemilihan angka 7 (tujuh) karena menurut falsafah jawa berarti pituduh (petunjuk) dan pitulung (penolong).

”Mari kita amalkan bersama ijazah yang sudah saya sampaikan, agar semua pengurus dan warga NU kompak. Apabila Kompak Insyaallah apapun kegiatan atau rencana MWC NU dapat dimudahkan” – KH. Abd. Adzim Alwi.

Akhir kegiatan, KH. Samian Muhsin menyampaikan ketika dulu ikut pelatihan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Pondok Pesantren Lasem. KH. Abdurrahim Nadzir pernah mencatat dawuhnya Kiai Hasyim Asyari yakni “kunuu ulama al amilin al ladzina la yabi’u dinahu bi dunyakum” yang artinya Jadilah orang NU yang senang mencari dan berbagi ilmu. Jangan jual agama dan NU untuk kepentingan duniawi tapi gunakan dunia untuk membangun agama dan NU.

Rangkaian acara lailatul ijtima dari siang hingga malam akhirnya ditutup dengan doa oleh K.H Samian Muhsin.

Kontributor : Moch. Taufiq Zulmanarif ( LTN NU Trowulan)