Pacet, NU Online Mojokerto –

Semerbak aroma namanya, bersemayam di seluruh pelosok negeri. Kebesarannya, terpatri dalam nurani. Buah jasa dan pengorbanannya, kita yang menikmati, hari ini.

Detik demi detik yang terasa sesak, kini tiada lagi. Tetes demi tetes keringat yang terbuang percuma, kini tiada lagi. Wanita Indonesia kini mampu mandiri, berani dan berdedikasi. Semua itu, takkan mungkin terjadi jika bukan R. A. Kartini yang mengawali. Salam hormat bagimu, Ibu.

Melihat kembali masa lalu, sejarah bangsa Indonesia yang begitu pilu. Sudah bukan masanya seorang ‘Kartini’ harus berjuang sendiri. Sebab, banyak ‘Kartini’ di seluruh penjuru negeri yang mau memperjuangkan tingginya mimpi.

Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, merupakan ikatan yang beranggotakan pelajar putri. Tak mengabaikan kesempatan yang didapat, selain duduk di bangku sekolah untuk meningkatkan intelektualitas, pelajar putri juga ikut serta berjuang di sekolah kehidupan.

Rekanita, panggilannya. Mulai dari berorganisasi, bersosialisasi, kaderisasi, komunikasi dan publikasi, teknologi, pendidikan jasmani dan seni, bahkan berniaga, dan negosiasi. Sekolah kehidupan yang ditempuh, sudah seharusnya diiringi kualitas intelektual dari bangku sekolah. Karena pola pikir dan kesesuaian perkembangannya akan terbentuk seiring bertambahnya pengalaman dalam hidup yang berguna untuk ‘problem solving’ kehidupannya.

Sangat membanggakan, ‘Kartini’ di masa kini masih banyak yang sadar akan ke-Kartini-annya. Berusaha sekuat tenaga untuk dapat berkontribusi pada bangsa melalui bakat dan talenta yang dimiliki. Terbukti dengan contoh nyata, seperti wanita yang berada di kursi DPR, wanita yang menjadi Manager Perusahaan Manufactur, wanita yang berada di sepanjang lintasan pelayaran air laut, wanita yang mengambil beban utama bela negara, wanita yang mengurus orang sakit, wanita yang mengajarkan agama, wanita yang menjadi pendidik, wanita yang memikirkan gizi anaknya bahkan wanita yang rela menjadikan punggungnya tameng matahari demi bahan makanan pokok negara ini tidak kurang apalagi terlambat ketersediaannya. Mungkin tidak seperti perjuangan R. A. Kartini di masa lalu. Namun, betapa hebat para ‘Kartini’ masa kini.

Kembali ke jendela IPPNU. Selain intelektual, aspek spiritual perlu digali. Salah satu seni dalam menjalani kehidupan adalah sabar. Sabar terhadap hal yang disukai pun sabar akan hal yang tidak disukai. Logikanya, seseorang tidak mungkin sabar jika tak memiliki pegangan. Entah pegangan itu berupa keyakinan terhadap Tuhan, pegangan ilmu spiritual, iman dan sebagainya.

Seni kehidupan ini telah ditempuh langsung oleh para ‘Kartini’ IPPNU. Sabar dalam belajar, sabar dalam patuh berbakti kepada orang tua dan guru, sabar dalam menuntut ilmu dan sabar untuk tidak bermain namun melangkahkan kakinya ke majelis ta’lim.

Dinamika organisasi yang mengampu banyak bidang, menuntut para ‘Kartini’ IPPNU untuk dapat beradaptasi bahkan berinovasi sesuai dengan bidang keahliannya. Tentu, jika bukan untuk bangsa, setidaknya membawa manfaat bagi sekitarnya. Sedang, di usia IPPNU, banyak remaja wanita yang dilanda badai emosional dan asmara. Namun, ‘Kartini’ IPPNU memilih untuk ditempa.

Pernyataan dari R. A. Kartini yang patut dijadikan motivasi sebagai IPPNU juga sebagai seorang putri, adalah:

“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.”

Sejalan dengan kata pepatah,

“Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Seperti mendaki gunung yang perlu perjuangan untuk mencapai puncak. Maka, untuk menjadi ‘Kartini’ IPPNU masa kini pun perlu merelakan waktu bermain untuk tempaan kualitas diri. IPPNU, ‘Kartini’ masa kini, siap berdedikasi dan melanjutkan perjuangan R. A. Kartini.

Kontributor: Zanit, LTN NU Pacet

Editor: Wahyu T. O.

Related Posts

NU Online Mojokerto