Ibadah Puasa Ramadan Bagaikan Even Lari Marathon

Pacet, NU Online Mojokerto –

Lari maraton bukanlah sesutu yang asing di telinga kebanyakan orang. Olahraga tanpa alat namun membutuhkan konsistensi tinggi dalam mencapai garis finish terdepan. Seorang pelari yang mengikuti even lari maraton memiliki teknik sendiri dalam merebutkan posisi utama. Sepertiga pertama, seorang pelari maraton terbilang cukup santai dan tidak terlalu terburu-buru mendahului teman lain. Sepertiga kedua, pelari mulai menaikkan kecepatan berlarinya. Dan di tahap ini seseorang ditantang untuk konsisten menjaga kecepatan berlarinya atau menambahnya. Sepertiga terakhir, mereka mengerahkan daya upaya maksimal untuk menjadi terdepan sampai garis finis.

Apa yang dilakukan oleh para pelari sama halnya dengan apa yang dilakukan ketika bulan Ramadan saat ini. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya untuk mempunyai strategi dalam menaklukan bulan Ramadan, terlebih mengejar malam lailatul qadar. Namun, dalam kenyataannya umat muslim cenderung bersemangat hanya di awal-awal puasa ramadan. Bukti konkritnya adalah shaf ibadah sholat tarawih yang semakin hari semakin menipis. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita harus mempunyai startegi khusus sehingga tetap konsisten dalam menjalankan ibadah bulan puasa.

Strategi yang pertama adalah Niat. Niat menjadi poin penting dalam melakukan segala sesuatu. Sadar akan keutamaan bulan ramadan menjadi sebuah kewajiban untuk diketahui. Strategi yang kedua adalah pandai dalam mengalokasikan waktu. Di awal-awal bulan Ramadan tidak ada yang salah jika kita memperbanyak ibadah, tetapi kita jangan terlalu memforsir diri, terkadang hal itu yang menjadikan seseorang tidak konsisten dalam melakukan sesuatu. Ketiga adalah selalu menjaga stamina tubuh. Makan makanan bergizi seperti kaya protein dan serat adalah salah satunya. Zaman sudah canggih, jika memang diperlukan bantuan untuk pengetahuan semacam itu, internet telah menyediakan banyak informasi akan hal tersebut.

Kultum yang disampaikan imam dalam tarawih malam ke-21 di Masjid Nurul Iman (22/04/2022) menyebutkan bahwa pentingnya memperbanyak ataupun mengerahkan daya upayanya dalam beribadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ibaratnya ini merupakan fase terakhir yang bisa kita manfaatkan dalam mecari berkah dan ridlo Allah swt. Apalagi di hari-hari tersebut diprediksi akan turun malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Ibarat pelari maraton, di fase ini pelari sudah tidak bergerombol melainkan sudah sendiri-sendiri. Mereka dengan kekuatan masing-masing ingin mengerahkan apa yang dimiliki untuk bisa menyentuh garis finish. Kondisi ini sama dengan ibadah Ramadan fase terakhir. Disaat semua sudah lelah untuk memperbanyak ibadah, sikap kita harus sebaliknya, inilah waktunya untuk mengerahkan daya dalam memaksimalkan sisa-sisa bulan Ramadan untuk lebih giat beribadah. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan ada suatu riwayat menyebutkan “Rasulullah sampai bengkak kakinya karena giatnya beribadah di fase akhir malam-malam Ramadan”. Oleh karenanya, berlomaba-lombalah untuk beribadah di fase terakhir bulan Ramadan agar di hari kemenangan, ridlo Allah selalu menyertai dimanapun dan kapanpun kita berada.

Kontributor : Riyan Fahmi, LTN Pacet

Editor: Wahyu T. O

Related Posts

NU Online Mojokerto