Tafsir Surah al-Fatihah : Kurikulum Al-Qur’an Dalam Berdoa

Tafsir Surah al-Fatihah : Kurikulum Al-Qur’an Dalam Berdoa

Selama ini berdoa diartikan sebagai memohon dan meminta kepada Allah yang merupakan definisi yang begitu instan. Lebih dari itu, berdoa ibarat berdiplomasi dengan Allah Swt, melakukannya perlu disiasati dengan seni. Seni apa? Yaitu seni merayu Allah Swt supaya memperkenankan doa-doa yang kita munajatkan.

Salah satu rahasia seni merayu Allah sejatinya ada kurikulumnya, yang oleh Allah telah disampaikan di dalam Al-Qur’an. Mari kita perhatikan ayat dalam surah al-Fatihah berikut:
إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan”
Dalam ayat ini, objek (maf’ul) dengan redaksi iyyaka (hanya kepada-Mu) diulang 2 kali. Dalam Kaidah Tafsir, kata yang diulang, menunjuk perhatian yang lebih. Maknanya: Sungguh hanya kepada-Mu kami menyembah dan meminta pertolongan.
Redaksi na’budu (kami menyembah), didahulukan dari pada nasta’in (kami memohon pertolongan), yang menyimpan pesan; bahwa kualitas penghambaan harusnya lebih diperhatikan dari pada intensitas permintaan.
Jadi, fokus utama yang seharusnya ditempuh seorang hamba yang ingin merayu Allah Swt adalah memperkuat identitas kehambaannya. Lewat apa? Tentu lewat menambah kualitas maupun kuantitas ibadahnya kepada Allah.
Namun adanya, seringkali ketika berdoa, yang tampak dari seorang hamba, dan menjadi fokus seorang hamba adalah terkabulnya sebuah doa, tanpa memenuhi identitas kehambaannya.
Hamba yang fokus memperkuat identitas penghambaannya kepada Allah Swt, adalah realisasi dari Iyyaka Na’budu, baru setelah itu, bermunajat kepada Allah, itulah bentuk iyyaka nasta’in. Jangan dibalik, atau hanya dikerjakan salah satunya.
Sebagai analogi, seorang anak yang merengek meminta hp kepada orang tuanya, di sisi lain dia adalah anak yang “mbeling” kepada orang tuanya, jika kira-kira orang tuanya tidak mengabulkan permintaannya, apakah orang tuanya salah? Tentu pantas saja seperti itu terjadi.
Sebaliknya, jika anak nurut, berbakti dan senantiasa berbenah diri memenuhi identitasnya sebagai anak, maka orang tua pun tak segan untuk memberinya, malah bisa jadi diberi lebih dari apa yang ia minta. Wallahu A’lam

Penulis : Faiz (Anggota PC LTN NU Kab. Mojokerto)