Lontong Sayur Mojosari, Makanan Khas Untuk Pejuang Melawan Penjajah

Lontong Sayur Mojosari, Makanan Khas Untuk Pejuang Melawan Penjajah

Usai proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, semua tokoh di Jakarta ketakutan mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Jepang sudah tidak berkuasa tetapi intel dan militernya masih melarang menyebarkan kemerdekaan. Tetapi tidak demikian dengan para pemuda seperti pejuang literasi Sutan Syahrir, B.M Diah, Ki Hajar Dewantara yang terus berjuang melalui Pers.

Dengan siaran Pers, masyarakat daerah tahu tentang kemerdekaan negerinya. Jelas terlambat, radio Pemerintah Militer Jepang, Hoso Kanri Kyoku (sekarang; Radio Republik Indonesia-RRI) baru menyiarkan tanggal 17 Agustus 1945 tapi pada pukul 19:00.

Pemerintah militer Jepang marah besar. Keadaan rakyat, adem ayem karena Hoax jaman dulu kan juga sudah banyak. Jadi….ya bertanya-tanya saja, apa benar Indonesia merdeka? Nah, baru keesokan harinya surat kabar dari Bandung Soeara Asia menuliskan headline Proklamasi kemerdekaan. Namanya surat kabar, jelas juga telat datangnya. Sampai di Jawa Timur tanggal 19 Agustus 1945. Baru semua rakyat di daerah bersuka cita.

Tanggal 20 Agustus baru masyarkat Mojokerto dan Mojosari diadakan pawai. Apa saja dipakai yang penting pawai kemerdekaan.

Pemerintah Jepang tidak dapat berbuat apa-apa. Singkat cerita, Jepang menyerahkan senjatanya ke Masyarakat Jawa Timur termasuk di Mojokerto. Indonesia merdeka tapi dianggap oleh sekutu masih milik Belanda. Jadinya Sekutu diwakili Inggeis datang ke Indonesia. Dimulai dari Jakarta. Rakyat Jakarta tidak melawan saat propertinya dirampas oleh pihak Inggris yang sewenang-wenang. Kemerdekaan Indonesia terancam.

Keadaan berbeda dengan di Jawa Timur dimulai dari Surabaya yang akhirnya pecahlah perang 10 Nopember 1945 demi mempertahankan kemerdekaan. Pertempuran terhebat dalam sejarah peperangan modern ini memakan waktu hampir sebulan penuh tanpa henti. Jadiiii…jangan dibayangkan bertempur..itu saja…

Tapi semua pertempuran pasti membutuhkan Manusia…di sini sudah ada, banyak rakyat dan santri ikut berjuang. Kedua pertempuran pasti membutuhkan senjata, dan ini sudah dimiliki oleh kita karena merampas persenjataan Jepang yang setara dengan senjata musuh kita. Terakhir jelas membutuhkan uang. Uang jelas untuk memasok makanan, bahan bakar dan lainnya.

Naaah…terakhir itu…Tentang makanan dan bahan bakar. Saya akan menceritakan tentang Makanan Khas Mojokerto yang dipakai untuk memasok logistik saat mempertahankan kemerdekaan 1945. Setiap hari dipasok pagi dan sore. Lontong Sayur!! Karena pengemasannya mudah, murah dan lumayan awet.

Cerita dimulai dari Jalan Masjid Mojosari. Sekarang masih panas ya tidak seperti dulu yang terkenal dengan teduhnya pepohonan. Maklum masih regenerasi pohon agar pohon tua tidak mencelakai warga.

Nah…saya akan menceritakan Jalan Masjid ini dan sumbangsih warga Mojosari saat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Sebagai penulis pernak pernik Mojokerto, saya tidak akan menulis proses pertempuran karena sudah banyak di bahas. Saya akan membahas Pom Bensin saja.

Ya…Pom Bensin..kepanjangan dari Pompa bensin yang sekarang menjadi SPBU.  Letak Pom Bensin Mojosari ini di mana? banyak yang mengatakan di Jl Gajah Mada dekat Pasar legi, karena di sana ada “lokalisasi” pindahan dari stasiun 😅…

Bukan….tapi di Jalan Masjid Mojosari alias “Embong tengah”

Mojosari terdiri dari 7 Gang. Gang 1 dan 2 menghadap di Jl Niaga..

Gang 3, 4 dan 6 menghadap Jl Hayam Wuruk dan Jl Masjid. Ada gang baru gang kecamatan…

Gang 7 menghadap Jl Airlangga dan bermuara ke Gang 6. Terakhir Gang 5 menghadap Jl Masjid, melingkar 1/4 lingkaran bermuara ke Gang 6.

Mengapa saya menceritakan tidak urut dan Gang 5 menjadi terakhir? karena saya ingin menceritakan gang 5. mengapa melingkar dan ada tempat yang sekarang menjadi rumah tua, gereja serta apotek Anugerah….

Karena dulu tempat itu adalah Pom Bensin…..gang 5 melingkari sebelah dan belakang Pom Bensin untuk bertemu gang 6.

Begini ceritanya…

Saat pertempuran 10 November, semua orang banyak berbondong-bondong ikut bertempur. Tidak semua…….karena pertempuran butuh manusia…senjata…dan logistik.

Mojokerto..Khususnya Mojosari, menjadi pusat logistik. Setiap pagi dan sore 2 Truk besar Nissan 180 dan 2 Truk Kecil Toyota GB (rampasan dari tentara Jepang) mangkal di Kecamatan Mojosari. Kecamatan Mojosari ini saat ini menjadi RSUD dr Sukandar.

Atas koordinasi Pak Camat dan jajarannya….saya tidak mengetahui pasti siapa camat saat itu. Warga Mojosari diminta memasak lontong sayur setiap pagi dan sore. Pagi dikirim ke kecamatan begitu pula sore.

Lontong sayur dipilih karena daya simpan yang lumayan awet dan sayurnya dianggap murah meriah serta gizinya lengkap. Saat itu keadaannya sama dengan sekarang. Ada pengerajin tempe, pengerajin tahu dan lainnya, Mereka juga bekerja mendapatkan uang.

Untuk itu Pak Camat memberikan uang setiap hari kepada mereka ada uang ada barang. Uang berasal dari dana yang diambil dengan cara merampok bank Escompto (yang saya tulis kapan hari).

Walaupun begitu, banyak warga yang menolak menerima uang itu. Warga yang berkecukupan memilih sukarela untuk memasak demi membantu perjuangan melawan agressor asing.

Lontong sayur dikumpulkan….dan, truk mengisi bensin dulu di Pom Bensin “embong tengah”. bensin…..karena saat itu Pom Bensin, jelas tidak ada Solar alias Diesel oil. Truk-truk jepang itu juga bermesin bensin. Saat itu alat ukur pompa bensin berupa tabung kaca berisi 2 liter.

Tabung kaca diisi penuh 2 liter dengan cara memutar pompa manual kalau penuh, baru dialirkan ke kendaraan. Nah, karena ini lamban, maka pompa bensin dimodifikasi langsung ke tangki truk. Mengisinya? PENUH!!!

itu saja…kalau penuh langsung ke kecamatan untuk mengangkut makanan menuju ke medan laga. Setiap 2 hari sekali suplai bensin didatangkan dengan kereta uap melalui Cepu ke Mojokerto lantas didistribusikan ke Mojosari di stasiun Kereta api Mojosari yang sekarang Pasar Legi.

Dari stasiun ke Jl Masjid memang dekat sih, tapi kendaraan bermotor saat itu dipakai semua untuk keperluan perang, jadi memindahkan bensin ke Pom Bensin memakai jasa sapi dengan cikarnya. Semuanya Beli karena proses pembuatan bensin juga memerlukan biaya.

Pertempuran yang berlangsung 21 hari ini menghebohkan dunia internasional. Mojosari mensuplai makanan selama lebih dari 30 hari. Dengan pom bensin dan warga yang kompak membantu perjuangan.

Tidak ada pertempuran hebat tanpa adanya suplai logistik…..

Mojokerto menyimpan banyak cerita……bangga menjadi Mojokerto…

Selamat Hari Kemerdekaan

 

Penulis : Firytri