Tafsir Surah Luqman Ayat 17: Pesan Alquran Bagi Penegak Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Tafsir Surah Luqman Ayat 17: Pesan Alquran Bagi Penegak Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukanlah merupakan suatu upaya yang mudah. Seorang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar tidak cukup hanya berbekal kemapanan secara teoritis (baca:menguasai teori) saja. 

salah satu aspek yang penting, barangkali disyaratkan dimiliki seorang Da’i, atau penegak Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah sifat Sabar. Al-Quran sendiri memberikan gambaran dari kisah Luqman al-Hakim yang termaktub dalam surah Luqman ayat 17 berikut:

ٰ(یَـٰبُنَیَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَاۤ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَ ٰ⁠لِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ)

Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Ayat di atas secara sepintas, bercerita tentang Luqman al-Hakim yang memberikan wejangan kepada anaknya. Tentang keharusan menegakkan sholat, kemudian disusul dengan memerintahkan untuk senantiasa memerintahkan kebaikan dan mencegah kemaksiatan.

Yang menarik di sini adalah, wejengan  tentang perintah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar ditutup dengan perintah bersabar  واصبر على ما اصابك. Oleh Syaikh at-Tafsir, Ibnu Jarir at-Thobari frasa tersebut diintepretasi dengan bersabar atas segala sesuatu yang “buruk” yang berpotensi akan menimpa seseorang setelah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. 

Satu suara dengan Imam Ibnu Jarir, Ibnu Kasir dalam kitab Tafsirnya juga menegaskan bahwa, orang yang menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar tidak akan jauh dari yang namanya “gangguan”. Oleh karena itu, perintah menegakkan amar ma’rur nahi munkar ditutup dengan perintah sabar.

Dari penjelasan ini, al-Quran seakan memberikan “warning” bagi para penegak amar ma’ruf nahi munkar yang harus memiliki penguasaan emosional. Mengingat, dakwah meskipun “label”nya adalah sebuah kebaikan, namun perjalanannya tak selalu mulus, seringkali Da’i dihadapkan “jalan terjal” yang bisa saja menahan laju dakwahnya. 

Kita bisa melihat fakta di lapangan, betapa banyak ulama kita yang diuji dengan “hal buruk” di tengah perjalanan dakwahnya. Berupa hinaan, cacian dari berbagai pihak, dan mungkin hal terburuknya adalah sampai harus kehilangan nyawa. Salah satu ulama kenamaan yang harus kehilangan nyawa, di tengah berdakwah adalah al-Maghfur Syekh Romadhon al-Buthi yang terbunuh oleh bom bunuh diri kaum ekstrimis ketika beliau sedang mengajar. Wallahu A’lam. 

Penulis ; Fais (Anggota LTN NU Kab. Mojokerto)