Masjid Tertua Itu Adalah Masjid Darussalam Dusun Mangelo Desa Sooko

Masjid Tertua Itu Adalah Masjid Darussalam Dusun Mangelo Desa Sooko

Dalam beberapa tulisan tentang sejarah Masjid tertua di Mojokerto, beberapa sejarawan memaparkan ada dua Masjid yang tertua. Yang pertama Masjid Al Fatah Alun Alun Kota Mojokerto dan Masjid Darusalam di Desa Gemekan Kecamatan Sooko. Masjid Al Fattah bila merujuk pada kutipan surat dari almarhum Mohammad Thohar, peletakkan batu pertamannya pada ahad pon, 7 Mei 1877 dan diresmikan pada 12 April 1878. Sedangkan Masjid Darusalam Desa Gemekan, berdiri pada tahun 1893.

Tetapi bila kita menelusuri dokumen lain, ternyata ada Masjid yang lebih tua dari dua Masjid tersebut. Masjid itu bernama Masjid Darussalam yang terletak di Dusun Mangelo Desa Sooko Kab. Mojokerto. Dalam catatan tertulis dari KH. Masyruf Chusni, Masjid Darussalam Dusun Mengelo Desa Sooko berdiri berdiri pada tahun 1854 M yang didirikan oleh Kiai Idris bin Kiai Abdul Munib.

Kiai Idris bin KH. Abdul Munib ini adalah seorang pendatang. Ia berasal dari Sampang Madura. Ia menetap di Mangelo ini dalam rangka berdakwah Islam di wilayah tersebut. Ia awali dengan mendirikan Masjid  tersebut.

Pertama kali masjid ini dibangun dengan ukuran 8 x 8 meter, dan ditambah emperan terdiri dari tembok 4 meter  dengan tembok tebal -+ 40 cm, jadi total ukurannya 8 x 12 Meter. Bangunan awal masjid ini terdapat 4 tiang penyangga menara, uniknya ke 4 tiang penyangga ini berupa tembok berukuran 50 cm dan tinggi -+ 12 M dibangun tanpa semen dan tanpa Besi.

Masjid ini juga dilengkapi dengan keberadaan 2 sumur dan tempat wudhu disebelah selatan dan utara masjid. Salah satu sumur, tepatnya yang berada di sebelah utara itu, airnya, dipercayai oleh masyarakat dapat menyembuhkan berbagai penyakit, tentunya kesembuhan itu dengan izin Allah SWT. Dan memang tidak sedikit orang yang telah membuktikannya pada saat sumur masih ada. Namun karena lokasi sumur tersebut, kemudian dijadikan sebagai jalan dan tentunya dengan berbagai pertimbangan yang lain, maka sumur ini diputuskan untuk ditutup.

Kiai Idris, selain mendirikan Masjid, juga memberikan pengajaran kepada warga Mangelo dan sekitarnya. Dari pengajaran agama Islam ini, banyak diantara mereka kemudian menjadi santri yang taat. Masjid Darusalam dijadikan sebagai sentra dakwah Islam. Termasuk pula sebagai tempat sholat Jumat dari desa desa sekitar Mangelo yang belum memiliki Masjid.

Dan dari santri santri didikannya ini, dikemudian hari menjadi penerus dakwah dari Kiai Idris. Kiai Idris sendiri meninggal dunia pada tahun 1884 M. Dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Darussalam, bersama istrinya. Kiai Idris tidak memiliki anak, sehingga kepengurusan Masjid diteruskan oleh penduduk sekitar.

Hingga pada masa KH. Syafii, dari Masjid yang semula dijadikan sentra dakwah Islam, berkembang dengan berdirinya Pesantren An-Nahdliyah. Pada masa Kiai Syafii ini, saudara kandungnya, KH. Masyruf Chusni ditunjuk menjadi Takmir Masjid Darussalam. Sedangkan beliau sendiri, menjadi pengasuh PP. An Nahdliyah.

Pada masa KH. Syafii, santri santri An Nahdliyah awal sering melakukan riyadoh di makam Kiai Idris. Hingga sekarang, juga banyak warga yang berziarah di makam Kiai Idris, pendiri Masjid Darussalam.

Masjid Darussalam hingga sekarang dikelola dan dimakmurkan oleh warga Nahdliyyim Dusun Mengelo Desa Sooko Mojokerto. Ketua Ta’mir Masjid saat ini dipegang Gus Shonhaji, M.Pd.

 

Ditulis oleh : Isno dan Gus Nawir

 

Sumber dari catatan dari KH. Masyruf Chusni