Anjuran Bergembira Menyambut Bulan Ramadhan

Anjuran Bergembira Menyambut Bulan Ramadhan

Tinggal menghitung hari, bulan yang dirindukan umat Islam di seluruh dunia akan hadir yakni bulan Ramadhan. Allah akan mengobral pahala dan melipatgandakannya serta membuka pintu ampunan selebar-lebarnya pada bulan ini. Dan salah satu bentuk amalan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk menyambut bulan ramadan adalah merasa bergembira dengan datangnya. Keterangan ini didasarkan pada hadis yang dikutip oleh Syekh Falih bin Muhammad bin Falih dalam kitab karangan beliau Ma’a an-Nabi Fi Romadhon :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفرح بقدوم رمضان ويبشر الناسَ بدُخولهِ، مرغبًا لهم على فعل الفضائل، وباعثًا فيهم المنافسةَ والمسَا بَقةَ، قائلًا : إِذا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجنَّةِ، وغُلِّقَت أَبْوَابُ النَّارِ، وصُفِّدتِ الشياطِينُ

Rasulullah SAW senantiasa bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang (akan kedatangannya) karena menganjurkan mereka melaksanakan ibadah-ibadah dan mengutus mereka untuk berlomba-lomba dalam melakukan amal sholih, dengan bersabda: “jika datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan Syetan dibelenggu.”(Muttafaqun Alaih)

Dalam keterangan hadis tersebut ada redaksi (كان) yang disusul dengan redaksi kalimat Fi’il Mudlori’ (يفرح) yang memiliki faidah kontinuitas, artinya Ketika bulan Ramadhan hendak datang, Rasulullah senantiasa/selalu bergembira dengan kedatangannya dan memberikan kabar gembira kepada para Sahabat. Maka merasa bergembira adalah merupakan kesunnahan yang senantiasa dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dalam menyambut bulan Ramadhan.

Selain itu, ulama’ memberikan keterangan bahwa maksud dari hadis tersebut adalah merupakan anjuran bagi umat Islam agar memperbanyak amal ibadah pada bulan Ramadhan, karena “godaan-godaan” telah diringankan oleh Allah SWT. Para ulama menegaskan bahwa bulan Ramadhan sebagai bulan takwa, karena nuansa dan suasana ibadah pada bulan Ramadhan lebih eksis dari pada bulan bulan yang lain. Karena umat Islam saling berlomba-lomba untuk memperbanyak amal ibadah maka umat Islam yang lain pun ikut termotivasi oleh suasana ibadah yang terdapat di bulan Ramadhan.

Ulama juga memberikan catatan penting terkait amalan dalam menyambut bulan Ramadhan, yakni bahwa Ramadhan adalah sebagai Syahru al-Muhasabah atau bulannya introspeksi diri.

Membanding-bandingkan kualitas ibadah diri dengan Ramadhan yang kemarin-kemarin. Maka jika didapati banyak kekurangan-kekurangan dalam hal ibadah di Ramadhan tahun lalu, dapat disempurnakan di Ramadhan yang akan datang. Salah satu Maqalah ulama yang sering dikutip yang menggambarkan akan pentingnya memanfaatkan Kesempatan Ramadhan dengan sebaik-baiknya adalah:

لا نتألم لرحيل رمضان لأنه سيعود، ولكن نتألم أن يعودَ ونحن قد رحلنا

“Kami tidak bersedih atas perginya bulan Ramadhan karna Ramadhan akan kembali, namun kami bersedih jika Ramadhan kembali, namun kami telah pergi” (Wallahu A’lam)

Penulis : Faiz (Anggota LTN NU Kab. Mojokerto serta mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)