Peringati Isra Mi’raj, Warga Penompo Hadirkan  Katib Syuriah PCNU Kab. Mojoketo

Peringati Isra Mi’raj, Warga Penompo Hadirkan  Katib Syuriah PCNU Kab. Mojoketo

NU Online Mojokerto – Memperingati peringatan Isro Miroj, Takmir Masjid Baitul hayul qoyum beserta warga Desa Penompo pada Sabtu malam (13/03/21) hadirkan Katib Syuriah PCNU Kab. Mojokerto, KH. Falaqul Alam.

Sebelum acara mauidloh Hasanah, ketua takmir, Gus Mustadlo, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyelenggaraan peringatan isra mi’raj dengan berbagai rangkain acaranya.

Gus Mustadlo pada kesempatan itu juga menyampaikan pesan, agar pasca peringatan Isra mi’raj, warga bisa giat berjamaah di Masjid.

Kepala Desa Penompo, Sutoyo, saat sambutan, mengklarifikasi tentang larangan membuat kegiatan. Ia menyatakan bahwa perangkat desa tidak melarang kegiatan keagamaan seperti peringatan isra mi’raj malam itu. Hanya saja, menurut Sutoyo, warga tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Usai sambutan, Gus Wahid yang juga merupakan Takmir Masjid Baitul Hayyul Qoyum, membacakan nama nama anak yang diterima untuk khitan masal. Ia menjelaskan pada tahun ini, karena ada batasan, maka panitia hanya menerima 10 anak yang akan dikhitan.

“Karena kondisi pandemi ini, yang biasanya kita membuat acara besar besaran dan menerima anak anak yang akan khitan massal dalam jumlah banyak, maka tahun ini, kami hanya menerima 10 anak. Sedangkan yang belum, insya Allah akan didaftarkan tahun depan” ujar Gus Wahid.

Gus Wahid menjelaskan, bahwa sebelum khitan, anak anak akan di arak terlebih dahulu. Baru setelah itu akan dikhitan. Ia mempersilahkan bagi jamaah yang mensedekahkan keperluan khitan kepada anak anak yang akan dikhitan pada hari Ahad (14/03/21)

Usai pembacaan sholawat dan doa, penyampaian maidloh hasanah oleh Gus Falaqul Alam dimulai. Pada mauidloh Hasanah Isro Miroj tersebut, Gus Falaqul Alam menyampaikan empat sifat yang terdapat pada manusia yaitu sifat hewaniah, sifat sifat syetaniah, sifat malaikah dan sifat rabbaniyah. Tetapi Gus Falaq mengingatkan meskipun manusia mempunyai sifat hewan tetapi tidak boleh menjadi hewan. Punya sifat syetan, malaikat dan rabbaniyah. Manusia yang mampu mengelola dengan baik potensi sifat itu akan menemukan keseimbangan dirinya sebagai hamba Allah. (Is)