Mbah KH. Mustofa, Eks-Pasukan Diponegoro Yang Bersembunyi Di Desa Brangkal

Mbah KH. Mustofa, Eks-Pasukan Diponegoro Yang Bersembunyi Di Desa Brangkal

Mbah KH. Mustofa adalah eks-pasukan Diponegoro yang melarikan diri. Ini yang saya peroleh dari Ahmad Dunyali, juru kunci sekaligus anak turun Mbah KH. Mustofa yang tinggal dekat makam di Desa Brangkal. Hal ini menambah daftar eks-pasukan Diponegoro yang bersembunyi di tanah Majapahit.

Mbah KH. Mustofa, seperti halnya Mbah Taslim Sroyo dan juga Mbah Amirudin Blendren, tidak banyak anak turunnya yang mengenal lebih mendalam tentang riwayat kehidupannya. Hanya saja mereka memiliki jejak yang bisa dilacak dari perjuangan dan anak turunya yang menjadi orang orang besar dan berpengaruh dijamannya.

“Karena Mbah Mustofa itu buronan Belanda, maka ia memang bersembunyi, dan tidak menampakkan dirinya itu siapa. Pun kepada anak turunnya. Tapi kita bisa melihat perjuangannya” terang Ahmad Dunyali menjelaskan alasan tidak banyak yang tahu riwayat Mbah KH. Mustofa.

Konon dahulu daerah dekat makam Mbah KH. Mustofa dipenuhi dengan tanaman Sawo. Tanaman sawo merupakan ciri khas tanda sandi, bahwa ditempat itu terdapat eks-pasukan Diponegoro.

Mbah KH. Mustofa bersembunyi lama di Desa Brangkal ini. Sembari bersembunyi, beliau menyebarkan Islam kepada penduduk sekitarnya. Kemudian ia menikah dengan putri Kiai Ilhar Karangsari Sooko yang bernama Nyai Aminah.

Kiai Ilhar sendiri adalah kiai yang memiliki nasab tokoh tokoh besar. Bila ditelusuri lebih jauh jalur silsilah ke atas maka Kiai Ilhar bin Kiai Yusuf (Tegalsari Ponorogo) bin Kiai Ishak (Coper Ponorogo) bin Kiai Ageng Muhammad Besari (Kasan Besari I) Ponorogo.

Dari pernikahan dengan Nyai Aminah, Mbah KH. Mustofa memiliki 8 keturunan diantaranya Nyai Titah, Nyai Mutmainnah, Nyai Dinah, H. Usman, H. Umar, H. Amir, H. Abd Fattah dan H. Soleh.

Semua anak anaknya di berangkatkan haji ke Mekkah oleh Nyai Aminah. Termasuk Mbah KH. Mustofa sendiri. Namun Nyai Aminah sendiri belum berangkat Haji.

Nyai Aminah termasuk pengusaha batik yang sukses. Konon tempat tinggal Ahmad Dunyali dulu adalah rumah Nyai Aminah sekaligus gudang batik hingga berlantai II. Banyak permintaan batik datang kepada Nyai Aminah. Sehingga menambah pundi pundi kekayaan Nyai Aminah.

Dari kekayaan ini, dipergunakan untuk mendanai dakwah menyebarkan Islam di Brangkal dan sekitarnya. Termasuk menyantuni kaum fakir miskin dan anak Yatim. Karena gerakannya inilah, oleh anak turunya dibuatkan lembaga resmi bernama KPAY Al Mustofa yang menyantuni ribuan anak Yatim, dari Mojokerto hingga Nganjuk.

Anak turun Mbah KH. Mustofa banyak menjadi tokoh tokoh besar di Mojokerto. Selain itu mereka juga adalah pendiri pendiri pesantren di sekitar Mojokerto. Seperti Nyai Tirah yang dinikahi oleh Kiai Saniman memiliki pesantren Karangsari. Anak turun dari Nyai Tirah ini dinikahi oleh Kiai Romli (Trowulan). Kiai Romli ini termasuk guru KH. Achyat Chalimi dan juga KH. Munasir Ali. Anak turunnya menjadi kiai kiai besar seperti KH. Dimyati Romli dkk.

Makam Mbah KH. Mustofa saat ini selain diziarahi anak turunnya, masyarakat luas juga turut menziarahinya. Bahkan tiap Jumat pagi, dijadikan tempat khataman Al Qur’an oleh Pondok disekitar makam (Isno)