Orang Tua Para Nabi Adalah Ahli Surga

Orang Tua Para Nabi Adalah Ahli Surga

Banyak tuduhan dari kaum muslim sendiri bahwa para Nabi itu keturunan orang kafir, benarkah itu? Bagaimana kita membantahnya dengan logika sederhana?

Dalam al-Qur’an disebutkan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (Al An’am 74)

Terjadi khilaf antara ulama apakah “Aazar” itu ab (ayah) dari Sayyiduna Ibrahim ‘alaihissalam atau bukan?

Dalam bahasa Arab, bahwa abun (ayah) suatu kata umum dipakai untuk:

– orang tua kandung,
– paman,
– kakek,
– teman-teman ayah kandung atau orang orang seumuran ayah.

Ini penting sekali diketahui agar kita bisa menjawab syubhat (kerancuan) yang dikeluarkan beberapa kaum dengan hadits “Abuka wa Abii fin naar (ayahmu & ayahku di neraka)”. Padahal yang dimaksud Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat dawuh “ayahku” adalah paman beliau, Abu Lahab.

Sementara kata “al waalid” hanya dipakai untuk ayah kandung.
Dan ayah kandung Sayyiduna Ibrahim adalah “Tarih”, bukan “Azar” yang merupakan paman Beliau.

Kemudian jika disebutkan nama setelah ayah berarti bukan ayah kandung, misalnya : “ayahmu si fulan”. Berarti si fulan ini bukan ayah kandung. Berbeda dengan misalnya seseorang mengatakan padamu: “Nih ambil buat ayahmu”, tanpa menyebutkan nama. Berarti dia memang menujukan pemberian itu untuk ayah kandungmu.

Kenapa mesti kita mengatakan ini semua?

Agar menyucikan nasab Kanjeng Rosul Muhammad SAW dari berbagai tuduhan kekufuran. Jadi silsilah orang tua Kanjeng Nabi Muhammad SAW sampai ke Sayyidina Adam ‘alaihissalam adalah ahli surga. Mereka semua adalah manusia manusia baik sebagaimana yang disebutkan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Kebaikan tentu berasal ketakwaan, jadi tidak cocok dihubungkan dengan kekafiran secara logika & naluri manusia yang sehat. Berbeda dengan otak beberapa kaum yang goblok itu. Karena Gusti Allah sendiri berfirman sifat kekafiran itu najis. Jadi mana mungkin para Nabi termasuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW terlahir dari rahim yang punya sifat najis?

Kebiasaan Gusti Allah, para Nabi itu dilahirkan oleh Nabi juga atau para orang sholeh. Lihat saja Nabi Musa dilahirkan oleh keluarga Imron bin Qohit dan Ayadzakhatu yg terkenal sholeh. Nabi Isa dilahirkan oleh Sayyidah Maryam yg terlahir dari keluarga sholeh yg terabadikan namanya di Al Qur’an yaitu Keluarga Imron.

Karena Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW merupakan rahmah terbesar di alam raya, jadi mana mungkin orang tua Beliau sendiri tidak memperoleh rahmah itu? Ini anggapan yang menyalahi kebiasaan Gusti Allah dan menyalahi akal sehat.

Kalau Nabinya Yahudi dan Nabinya Nasrani di sifati keturunan orang sholeh, apa kita tega bilang Nabinya orang Islam itu keturunan orang kafir? Satu pendapat yang aneh dan patut dipertanyakan keimanannya.

Ayat:

وَتَقَلُّبَكَ فِی ٱلسَّـٰجِدِینَ

“Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy Syu’aro’ 219)

Ditafsirkan oleh Sayyidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW berpindah dari shulbi & rahim mereka yang bersujud pada Gusti Allah SWT. Bersujud itu artinya beriman.

Dalil lain “Azar” itu bukan ayah Nabi Ibrahim dalam al-Qur’an:

Nabi Ibrahim muda berjanji untuk terus memintakan keampunan bagi Azar, usia sekitar 12 – 16 tahun saat menasehati. Kemudian, ketika diberitahukan bahwa Azar itu musuh Gusti Allah, Nabi Ibrahim pun berhenti memintakan keampunan & berlepas tangan, itu sekitar usia 30 – 40an tahun. Lalu beliau dianugerahi anak, yaitu Nabi Ismail ‘alaihissalam pada usia 100 tahun. Dan setelah membangun Baitullah dengan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim berdoa:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Duh Gusti, berikan ampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapakku dan juga pada orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat)” (Ibrahim 41)

Di sana Beliau meminta keampunan pada waalid (ayah kandung) padahal Beliau dilarang untuk beristighfar untuk ayah yang bernama Azar. Jadi ayah kandung Beliau bukan Azar. Dalilnya dari al-Qur’an. Dalil ini gak bakal ketemu kecuali di Al Qur’an itu sendiri dan kemauan untuk menggunakan sedikit akal sehat.

Makanya, yang selalu berkata orang tua Nabi itu kafir, kentara gak pernah ngaji atau tidak punya akal sehat. Ini semua logika sederhana untuk menjawab semua tuduhan buruk pada para Nabi, terutama Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sekaligus membuktikan bahwa orang tua para Nabi, termasuk orang tua Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah keturunan ahli surga.

Wallahu a’lam.

Penulis Gus Fahmi (Anggota Terog Gosong Mojokerto)