Marah Yang Benar

Marah Yang Benar

Imam Ghozali menulis tiga hadits yang menyebut tentang bahaya amarah dan pahala bagi yang mampu mengontrolnya.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

إن الرجل ليدرك بالحلم درجة القائم الصائم، وإنه ليكتب جبارا وما يملك إلا أهل بيته

“Ada seseorang yang sempat mendapat predikat ahli sholat dan puasa, dan ternyata tercatat pula sebagai orang yang suka marah marah secara membabi buta, maka kebaikannya terhapus seakan tidak punya apa apa kecuali keluarganya”

Kanjeng Nabi SAW dawuh

من كظم غيظا ولو شاء أن يمضيه أمضاه، ملأ الله تعالى قلبه يوم القيامة أمنا وإيمانا

“Siapa saja yang bisa mengontrol kemarahannya kepada orang lain agar tidak berlarut-larut, yang andaikan dia menghajarnya saat itu juga maka dia sangat mampu melakukannya, maka Gusti Allah menganugerahi kedamaian dan keteguhan di hari kiamat”

Kanjeng Nabi SAW dawuh

ما من جرعة أحب إلى الله تعالى من جرعة غيظ يكظمها عبد، وما كظمها عبد إلا ملأ الله جوفه إيمانا

“Tidak ada perilaku yang lebih dicintai Gusti Allah selain perilaku seorang hamba yang berhasil meredam kemarahannya, dan tidak ada balasan yang pantas disandang seorang hamba yang berhasil meredam amarahnya kecuali hatinya akan dipenuhi oleh Gusti Allah dengan keimanan”

Namun, walau marah itu buruk, tidak punya marah juga sesuatu yang tidak bijak.

Imam Ibnu Hibban dalam Roudhotul Uqola’ Wa Nazhatul Fudhola’ dawuh

ولقد أنبأنا عمر بن محمد حدثنا الغلابي حدثنا مهدي بن سابق عن عطاء قال قال عبد الملك بن مروان إذا لم يغضب الرجل لم يحلم لأن الحليم لا يعرف إلا عند الغضب

“Ketika seorang laki-laki tidak pernah terlihat pernah marah maka akan sulit terdeteksi tingkat kebijaksanaan / kearifannya, karena barometer kebijaksanaan seseorang itu akan bisa diketahui ketika dia murka”

Maka dari itu, orang yang tidak pernah marah itu tidak bijak. Terlalu banyak marah pun tidak baik.

Inilah makna dari dawuh Imam Syafi’i

من استغضب فلم يغضب فهو حمار ومن استرضى فلم يرض فهو شيطان

“Siapa saja yang dipancing emosinya namun sama sekali tidak ada respon amarah, dia itu keledai. Sebaliknya, orang yang dibujuk agar marahnya mereda tapi kok tidak mereda juga, itu namanya setan.”

Maka yang benar adalah marah sewajarnya, terutama ketika lima maqoshid syariah (maksud dan tujuan diadakannya syariat) diganggu gugat. Maqoshid syariah yang lima itu adalah :

1. Menjaga jiwa
2. Menjaga Agama
3. Menjaga Harta
4. Menjaga Keturunan
5. Menjaga Kehormatan

Kalo 5 hal itu diganggu gugat, maka wajib marah karena hal ini wajib dijaga atas perintah Gusti Allah dan Kanjeng Nabi.

Tapi marahnya ya pakai ilmu, pakai metode dan prosedur yang benar. Marah yang pakai ilmu biasane tidak berlarut-larut dan tidak ad hominem.

Satu lagi, kalo bisa, pas marah sama anak atau istri itu jangan mendoakan jelek. Takutnya diijabahi, nyesel dewe engkok.

Kanjeng Nabi SAW dawuh

لا تدعوا على أنفسكم، ولا على أولادكم، ولا تدعوا على أموالكم، لاتوافقوا من الله ساعة يُسأل فيها عطاء، فيستجيبَ لكم

“Janganlah kalian mendoakan jelek pada diri kalian dan anak anak kalian. Janganlah kalian mendoakan jelek pada harta kalian. Jangan sampai doa jelek kalian bertepatan dengan waktu di mana Gusti Allah mengijabah doa apapun di waktu tersebut, sehingga doa jelek kalian diijabah”

Imam Ibnu Rojab Al Hanbaliy memberikan penjelasan pada hadits ini. Bahwa hadits ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa :

– doanya orang yang sedang marah terkadang diijabah ketika bertepatan dengan saat ijabah,

– dilarang mendoakan jelek pada diri sendiri, keluarga, hartanya, ketika dalam keadaan marah.

Soalnya orang yang marah itu doanya sepenuh hati akibat pancingan emosi. Doa yang sepenuh hati ini sering diijabahi karena ikhlasnya notok. Makanya, kita harus hati-hati pas lagi marah. Usahakan logika dan kesadaran diri tetap dipakai walau sedang marah.

Wallahu a’lam.

 

Penulis : Fahmi (Anggota Terong Gosong Mojokerto)