Do’a dan Amalan Menguatkan Hafalan Dan Terjaga Dari Lupa

Do’a dan Amalan Menguatkan Hafalan Dan Terjaga Dari Lupa

Setiap pencari ilmu pasti mendambakan ingatan yang kuat ketika mengkaji ilmu apapun, terutama ilmu agama. Tradisi hafal-menghafal masih menjadi tradisi penjagaan ilmu yang paling unggul setelah tradisi menulis (kitabah), dan masih eksis di pesantren-pesantren di Indonesia. Kitab yang masyhur wajib dihafal oleh para santri di pesantren di antaranya: Aqidatul ‘Awam (tauhid), ‘Imrithi (gramatika ‘Arab) Alfiyah ibn Malik (gramatika ‘Arab), Matan Zubad (Fiqh), dan masih banyak yang lain dari berbagai fan ilmu. Tradisi ini bisa disandarkan pada dawuh Imam Syaf’i RA bahwasannya:

العِلْمُ فِي الصُّدُورِ لَا فِي السُّتُورِ

“ilmu adalah apa yang di dalam hati (hafalan), bukan di kertas”

Dalam prosesnya, kekuatan dalam menghafal itu ada dua, ada yang bersifat bawaan (dlorury), artinya ada seorang yang telah dianugerahi oleh Allah kecerdasan, yang dengan itu dia mudah dalam menghafal setiap apa yang dia baca, atau apa yang dia dengarkan. Seperti Imam Syafii, beliau mengaku memiliki hafalan yang kuat dan diakui oleh guru-guru beliau. Beliau berkata “tidaklah aku membaca satu kitab/buku pun kecuali aku telah menghafalnya di luar kepala”. Kemudian ada yang bersifat (kasby) atau bisa diasah dengan pembiasaan-pembiasaan, pembelajaran dan lain-lain.

Di samping dua hal di atas, para ulama’ yang mengajarkan atau mewariskan beberapa amalan atau doa yang bisa membantu hafalan menjadi lebih kuat dan terjaga. Kami sadur dari kitab ‘Ilaj an-Nisyan yang berarti ‘obat lupa’ karya seorang ulama’ sholih sekaligus imam masjid as-Saqaf di Tarim, Yaman, yaitu Syaikh Muhammad bin ‘Alawy al-‘idrus. Berikut ulasannya:

1. Untuk Doa, beliau menganjurkan membaca Alquran surah al-Anbiya’ ayat 79 :

فَفَهَّمۡنَـٰهَا سُلَیۡمَـٰنَۚ وَكُلًّا ءَاتَیۡنَا حُكۡمࣰا وَعِلۡمࣰاۚ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّیۡرَۚ وَكُنَّا فَـٰعِلِینَ

Kemudian dilanjutkan dengan membaca doa:

يَا حَيُّ يَاقَيُّومُ، يَا رَبَّ مُوسَى وَهَارُون وَرَبَّ إِبْرَاهِيْمَ وَيَا رَبَّ مُحَمَّدٍ صَلّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيهِمْ أَجْمَعِيْنَ ارْزُقْنِي الفَهْمَ وارْزُقْنِي العِلْمَ والحِكْمَةَ والعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Doa ini dibaca setiap hari sebanyak sepuluh kali.

2. Kemudian sebelum memulai belajar dianjurkan membaca doa berikut:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ مَا عَلَّمْتَنِيهِ فارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِي إِلَيهِ، ولا تَنْسَنِيهِ يا رَبَّ العَالَمِينَ، اللهُمَّ أَخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الوَهْمِ، وَأَكْرِمْنَا بِنُورِ الفَهْمِ، وافْتَح عَلَينَا بِمَعْرِفَةِ العِلمِ، وأحْسِنْ أَخْلَاقَنَا بالحِلْمِ، وسَهِّلْ لنَا أَبْوَابَ فَضْلِكَ، وانْشُرْ عَلَيْنَا من خَزَائِنِ رَحمَتِكَ يا أَرحَمَ الراحِمينَ

3. Dianjurkan sebelum memulai hafalan, untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, doa dan dzikir kepada Allah.

4. Banyak membaca al-Fatihah sebelum mulai belajar atau menghafal. Ini bisa kita lakukan atau kita biasakan dengan memulai bertawassul kepada guru-guru atau para masyayikh.

5. Selanjutnya, salah satu ayat Alquran yang bisa membantu menguatkan dalam menghafal, seperti yang ditradisikan oleh para ulama’ adalah membaca surah al-Baqarah ayat 164:

إِنَّ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّیۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِی تَجۡرِی فِی ٱلۡبَحۡرِ بِمَا یَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مِن مَّاۤءࣲ فَأَحۡیَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِیهَا مِن كُلِّ دَاۤبَّةࣲ وَتَصۡرِیفِ ٱلرِّیَـٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ بَیۡنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَعۡقِلُونَ

6. Menurut Syekh Muhammad bin ‘Alawy al-‘Idrus bahwa waktu yang paling efektif untuk menghafal adalah sebelum tidur malam.

7. Dan yang terakhir dan paling penting dari semua doa dan amalan di atas adalah, sedapat mungkin untuk menjauhi segala bentuk maksiat.

Demikianlah keterangan singkat tentang doa dan amalan yang bisa membantu menguatkan dalam belajar dan menghafal, yang kami kutipkan dari kitab ‘Ilaj an-Nisyan karya Syaikh Muhammad bin ‘Alawy al-‘idrus. Wallahu A’lam

Penulis:

(Faiz, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)