Biografi Singkat KH. Masud Yunus, Sang Wali Kota Yang Kyai

Biografi Singkat KH. Masud Yunus, Sang Wali Kota Yang Kyai
KH. Masud Yunus

KH. Mas’ud Yunus dilahirkan di Kedung Mulang, Surodinawan, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto pada Januari 1952, dari pasangan dari H. Sanusi dan Hj. Fathimah. Ayahnya meninggal pada tahun 1963. Pada waktu itu Masud Yunus masih duduk di kelas 5 dalam jenjang pendidikan Madrasah ‘btidatyah Nurul Huda. Dia dan saudara-saudaranya sempat khawatir melihat masa depan pendidikannya. Tetapi ibunya, Hj. Fathimah tetap memberikan motivasi kepada putra-putrinya untuk tetap bersemangat belajar sampai menamatkan Madrasahnya.

Setelah menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda pada tahun1965, KH. Masud Yunus melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Islam yang dulu bernama MMNU (Muallimin Muallimat Nahdlatul Ulama) di Brawijaya Mojokerto. Pada masa SMP, dia sanggup berjalan kaki dari rumah sampai sekolah kurang lebih 5 Km selama 4 tahun. Pada jenjang MMNU ini, ia aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Diantaranya adalah Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), dan juga pernah terlibat dalam organisasi pelajar yakni IPNU. Setelah menamatkan SMP pada tahun 1968, KH. Mas’ud Yunus melanjutkan ke PGA ( Pendidikan Guru Agama ) 4 tahun dan dilanjutkan PGA 6 tahun. Dan kemudian KH. Masud Yunus melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi pada tahun 1991-1995 di STIT Raden Wijaya Mojokerto. Pada tahun 2010, KH. Masud Yunus menyelesaikan pendidikan S 2-nya di STIE Malang.

KH. Mas’ud Yunus tercatat pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Brawijaya Mojokerto tahun 1971-1974. Pesantren ini didirikan oleh KH. Ahyat Chalimy. Pada masa nyantri itu, KH, Masud Yunus dikenal memiliki suara indah saat qiroah. Dari kompetensinya itu, ia sering mendapat undangan untuk qiroah sehingga ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa melibatkan orang tuanya.

Di Pondok sendiri, karena suaranya yang indah, maka KH. Masud Yunus diamanati oleh KH. Achyat Halimi untuk menjadi mua’dzin. Ia mengemban amanah dari gurunya itu dengan sungguh-sungguh. Karena inilah dia sangat dekat dan menjadi istimewa di mata KH. Ahyat Chalimy.

KH. Masud Yunus dijodohkan oleh KH. Ahyat Chalimy dengan santrinya yang bernama Siti Amsah. Dia menikah pada 29 Desember 1974. Pernikahannya ini dikaruniai empat putra sebagai berikut: Abdullah Hafidz, Muhammad Imaduddin, Hj. Millatul Islamiah dan Hj. Robi’ah Al-Adawiah.

KH. Masud Yunus, mengawali pengabdiannya dengan menjadi Kepala Sekolah di SMP Islam Brawijaya. Di sekolah ini ia membuat gebrakan mengubah penampilan busana siswa-siswinya. Pada masa orde baru, sangat jarang Muslim atau Muslimah mengenakan pakaian yang menjadi identitas ke-muslimannya. Dan KH. Masud Yunus memberlakukan busana muslim dan muslimah kepada siswa-siswinya.

Selain sebagai Kepala Sekolah, di NU, KH. Masud Yunus menjabat sebagai Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Kabupaten Mojokerto. Di masanya, ia memperkuat upaya mengembangkan pendidikan Islam. Kehadirannya telah membantu pemahaman yang lebih kokoh atas ajaran Islam yang berhaluan ahlu sunnah waljamaah.

Menjelang tahun 1990-an, ia bersama sama dengan GP. Ansor Mojokerto berjibaku mendirikan Rumah Sakit Islam Sakinah. Namanya tercatat sebagai pengurus Yayasan Sakinah ini. Bahkan ia pernah menjadi Ketua Yayasan Sakinah yang mengurus berbagai hal tentang Rumah Sakit Kebanggaan warga Nahdliyin ini.

Pada tahun 2000 KH. Mas’ud Yunus bersama K.H Muthaharun Afif dan K.H. Abdul Aziz mendirikan Pondok Pesantren Al-Amin. Di Pesantren ini, ia mengembangkan pendidikan yang menggabungkan unsur unsur modern dengan pesantren salaf.

KH. Mas’ud Yunus juga aktif sebagai mubalig. Ia berceramah dari satu tempat ke tempat lain. Ia tiap sabtu memberi pengajian di Masjid Al-Fattah Kota Mojokerto. Materi pengajiannya adalah kumpulan hadis pilihan.

Pada tahun 2000 KH. Mas’ud Yunus menjabat sebagai ketua dewan pendidikan.  Kontribusi yang diberikan Mas’ud Yunus pada waktu menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan adalah membangun desa yang berlingkungan pendidikan. Salah satu kecamatan yang menjadi pilot projek adalah desa Sumbersono yang masyarakatnya 60% miskin, tetapi mereka mempunyai keinginan untuk bangkit dari kemiskinan menuju desa yang berlingkungan pendidikan. Program desa berlingkungan Pendidikan itu kemudian diadopsi ke Kota Mojokerto ketika ia menjadi Walikota Mojokerto.

Sejak tanggal 8 desember 2013, Ia terpilih menjadi wali kota Mojokerto setelah sebelumnya mendampingi Abdul Ghani sebagai wakil Wali Kota Mojokerto.  Pada masa kepemimpinannya, banyak gebrakan yang telah dilakukanya seperti membuat perda mengenai wajib belajar untuk siswa di malam hari, menerapkan kewajiban zakat bagi PNS Pemkot dan  mengisi kegiatan kerohanian pada warga Mojokerto. Selain itu, pada bangunan insfratruktur, KH. Masud Yunus juga membangun Jembatan Rejoto, Taman Kota, GMSC dan lain lain.

Perjalanan karir politiknya terhenti lantaran kesandung dengan kasus suap pembahasan perubahan APBD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang tahun anggaran 2017. Selama dibalik jeruji, KH. Masud Yunus rajin membuat tulisan yang diterbitkan untuk umat Islam. Selain tentang keagamaan, KH. Masud Yunus juga menulis memoar sejarah perjalanannya bersama rekan-rekannya membangun gerakan sosial kemasyarakatan.

KH. Masud Yunus wafat pada hari kamis 27 agustus 2020. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Surodinawan.