“Menginstal” Program Hidup di Tahun Baru

“Menginstal” Program Hidup di Tahun Baru
Fathur Rahman, Ketua PC Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh NU Kabupaten Mojokerto, Ketua Yayasan Sosial & Humaniora (YASMANIORA) Al-Hidayah Kemantren Gedeg Mojokerto, Alumni PIQ Singosari Malang dan King Sa’ud University Riyadh Arab Saudi

Tahun baru hijriyah kembali menyapa kita. Hal ini tentu menjadi nilai tambah rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat panjang umur dan sehat wal afiyat yang Dia anugerahkan kepada kita. Semua harus kita sadari sebagai bagian dari Rahmat (kasih sayang) Allah kepada kita. Namun di sisi lain kita juga tentu harus introspeksi diri bahwa perjalanan masa dengan ditandai akhir tahun dan awal tahun ini semakin mengurangi usia kita bahkan semakin menambah dekat ajal kita untuk kembali kepada Allah SWT. Maka jika kita mau berpikir kritis terhadap fenomena pergantian tahun ini tentu kita akan melaluinya dengan sikap yang bijak, banyak beristighfar kepada Allah, bertasbih kepadaNya dan mengharap ridha dariNya.

Abuya as-Saiyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Dzikrayât wa Munasabât menyatakan bahwa “memasuki tahun baru, berarti memperbarui  rasa dan perasaan kita kepada Allah dalam rangka meniti jalan hidup di dunia ini.” Bahwa semua urusan hidup dan kehidupan ini haruslah dikembalikan kepada Allah SWT. Dengan kata lain tahun baru ini bisa kita maknai dengan memperbarui ikatan janji suci kita kepada agama Islam yang agung ini. Janji suci ini tersurat jelas dalam Q.S. al-An’am ayat 162:

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Bahkan lebih jauh lagi, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari memaknai tahun baru ini dengan parameter “hukum kausalitas.” Perilaku kita di permulaan sangat mempengaruhi hasil kita di penghujung. Beliau secara inplisit menyatakan dalam kitabnya Al-Hikam :

من علامة النجح في النهايات الرجوع إلى الله في البدايات

Diantara tanda kesuksesan seseorang di titik akhir (ending) adalah kemampuanya menghadirkan nilai-nilai” ar ruju’ ilallah/ kembali kepada Allah” di titik awal (starting).

Berpijak pada tesis ini, mengawali tahun baru tak seharusnya kita lakukan dengan cara melanggar tatanan agama ataupun tatanan etika, sosial dan budaya yang berlaku di tengah masyarakat. Kita merayakan tahun baru dengan suasana suka cita serta menghadirkan rasa syukur kepada Allah SWT adalah sebuah sikap yang amat bijak. Namun manakala kita lakukan dengan berfoya-foya, berpesta pora dan menciptakan lahan kemaksiatan baru bahkan sampai lupa pada Dzat Pencipta perputaran waktu, maka ini adalah sebuah pelanggaran yang nyata dan sangat kontradiktif dengan kaidah bijak dari seorang Syekh Ibnu Athaillah :

من أشرقت بدايته أشرقت نهايته

Barang siapa yang mempunyai program dalam hidupnya dan dia memulainya dengan sesuatu yang baik, maka kelak di penghujung programnya itu akan memperoleh sesuatu yang baik pula.

Ibarat pohon, ia tak akan bisa langsung berbuah tanpa melalui proses panjang terlebih dahulu. Berawal dari biji, tumbuh menjadi pohon, lalu berkembang lagi membentuk ranting, dahan, daun, dan pada akhirnya pohon ini berbuah, dan seterusnya. Demikian pula kita, untuk bisa sampai pada  happy ending (akhir tahun yang baik/sukses/husnul khatimah), tak akan bisa lepas dari perilaku kita saat mengawali tahun baru. Selama kita mengawali langkah hidup di tahun baru dengan nilai-nilai ketaatan kepada Allah, berproses seiring dengan sunnatullah serta berjalan dengan kemantaban hati lurus di jalan Allah, maka Allah pun akan menjamin kesuksesan kita hingga akhir tahun dan berlanjut secara berkesinambungan. Sebaliknya jika kita mengawali langkah hidup ini dengan selalu menuruti hawa nafsu, syahwat dan teramat senang bahkan “kemaruk” pada kesemuan dunia, maka bisa jadi Allah akan menjauhkan kesuksesan sejati itu dari diri kita, Fal ‘iyadzu billahi minas Syaithanir rajim.

Pertanyaanya, bagaimana cara kita memulai tahun baru ini dengan sesuatu yang baik dan yang sesuai dengan kaidah di atas?. Jawabannya yang terpenting adalah niat dan i’tikad baik kita untuk mau menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, baik hubungannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia. Maka diantara ikhtiar program yang dapat kita tempuh adalah memantapkan kembali tujuan hidup kita (baca: visi) kita, yang mana visi yang pasti datangnya adalah kematian. Dengan demikian kita harus mempunyai visi yang paling tidak bisa mencakup kematian tersebut. Dan agama Islam sudah mengajarkan sebuah visi yang sebaiknya kita penuhi, sebagaimana dalam Q.S. al-Baqarah ayat 201:

dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”

Bertolak dari ayat ini, jelas agama Islam mengajarkan kita agar mempunyai pola pandangan hidup yang jauh. Maksudnya kita tidak hanya memandang jauh ke depan dalam masalah duniawi, akan tetapi juga harus melingkupi kehidupan ukhrawi kita kelak. Hal inilah yang dimaksud dengan pandangan hidup islam itu mencakup dunia fisik dan dunia metafisik. Dan sebenarnya, dunia metafisik inilah merupakan dunia yang jauh lebih besar dari dunia fisik yang kita alami saat ini.

Selanjutnya untuk bisa mencapai visi “fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar” ini, kita dituntut untuk pandai dan jeli menyusun misi hidup ini seoptimal dan seefektif mungkin, mengingat sangat singkatnya hidup di dunia ini. Misi yang dimaksud adalah yang tertuang dalam Q.S. Al-‘Ashr 1-3:

 

 

Dalam surat ini, misi manusia yang paling utama adalah menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang ahli berbuat kebaikan dan menjadi orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dan harus disadari, bahwa misi yang kita emban ini akan mempunyai banyak hambatan, salah satunya adalah hambatan mengenai waktu. Pertanyaannya adalah, berapa lama sebenarnya waktu kita untuk bisa melakukan amal saleh di dunia ini dalam hitungan umur dunia dan akhirat ?. Saat ini kita mengenali bahwa waktu ini terdiri dalam 24 jam dalam sehari, setiap jam terdiri dari 60 menit, setiap menit terdiri dari 60 detik sehingga dalam sehari semalam kita mengenal waktu sebanyak 1440 menit atau sekitar 86.400 detik. Dalam seminggu kita mengenal waktu sebanyak 168 jam, sebulan sebanyak lebih kurang 5040 jam dan setahun sekitar 8.760 jam. Apabila kita bandingkan umur kita rata-rata 72 tahun, dan kita bandingkan dengan waktu yang berjalan di akhirat maka akan kita dapati bahwa rata-rata umur kita ini sebesar 0.072 hari waktu akhirat. Faktor pembagi sebesar seribu tahun ini dapat kita dapatkan pada Q.S. Al-Hajj: 47 :

 

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.

Maka dari sini perlu kiranya kita memiliki sebuah acuan agar bisa melaksanakan visi dan misi kita ini ditengah hambatan waktu yang relatif singkat ini. Acuan yang dimaksud disini adalah waktu salat wajib. Dalam sehari semalam, Allah membagi kehidupan kita untuk melaksanakan salat sebanyak lima kali. Mulai dari salat subuh, zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Tugas kita sebagai manusia adalah mengisi celah-celah diantara kelima waktu tersebut dengan melakukan hal-hal yang diridhai Allah SWT dengan berdasarkan pada manajemen waktu yang setidaknya meliputi 3 hal, yaitu:

  1. Perencanaan waktu sesuai dengan target yang ingin dicapai.
  2. Disiplin diri dalam memenuhi perencanaan waktu tersebut.
  3. Menentukan skala prioritas.

Bagi seorang suami misalnya, sebagai kepala keluarga akan bertugas untuk bangun subuh, salat subuh, bersiap-siap untuk berangkat kerja, bekerja, istirahat siang, salat zuhur, bekerja, salat asar, pulang kerumah, istirahat, salat magrib dan isya, makan malam, dan begitu seterusnya. Demikian pula bagi seorang isteri dan anak, semuanya sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Pada akhirnya, momentum tahun baru adalah waktu yang sangat tepat untuk menginstal dan memantapkan proram hidup kita menuju visi dan misi hidup yang lebih terarah sesuai dengan kehendak Allah SWT, walaupun dalam kenyataannya kita sangat dibatasi oleh waktu dunia. Namun dengan manajemen hidup berbasis salat lima waktu semuanya akan baik-baik saja. Karena kita meyakini bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah SWT, sehingga kehidupan kita akan mencapai apa yang disebut dengan: “Jika mendapat kebaikan akan selalu bersyukur, dan Jika mendapat kesusahan akan selalu bersabar.”  Wallahu A’lam.

 

Daftar Bacaan :

Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat

Ibnu Atah’illah as-Sakandari, Al-Hikam

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Syarh wa Tachlil al-Hikam al-‘Athaiyyah

Syekh Ali As-Shabuni, Shafwatu at Tafasir

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya

https://cpssoft.com/blog/manajemen/manajemen-waktu/