Urgensi Peringatan Isra’ Mi’raj dalam Masyarakat Kini

Urgensi Peringatan Isra’ Mi’raj dalam Masyarakat Kini

Peringatan Isra’ Mi’raj merupakan momen penting dalam risalah kenabian. Karenanya ia diperingati dan juga dirayakan oleh umat Islam sebagai moment untuk menapak tilas perjalanan Nabi yang sangat spektakuler tersebut.

Di Nusantara, peringatan Isro miroj diperingati dengan ragam acara. Ada yang mengadakan pengajian dengan mendatangkan mubaligh mubaligh kondang, atau dengan acara-acara yang dibalut dengan kontestasi kebudayaan Islam.

Di masyarakat desa, seperti di daerah Kemlagi, meskipun Isro miroj tidak diperingati dengan meriah, tetapi memiliki sakralitas yang sangat mendalam. Pada peringatan Isro miroj di sebuah kampung, penulis menemui peringatan dengan hanya mengeluarkan ambeng. Jamaah biasanya mengumpulkan makanan di sebuah Masjid. Makanan ditaruh ditengah tengah. Jamaah ikut duduk mengitari makanan tersebut. Sang Kyai sebelum berdoa, biasanya memberikan tausiah sederhana. Tausiah sederhana itu, meskipun tidak disampaikan dengan bahasa retorik yang handal, tetapi membawa ingatan kembali tentang peristiwa agung itu, yakni Isro miroj. Kyai melalui sarana ritual sederhana itu mengingatkan kepada seluruh jamaah untuk istiqomah dalam bersujud kepada Allah. Peringatan sang Kyai itu menjadi penting, sebab seringkali karena kesibukan atau karena kemalasan, banyak orang yang kemudian bolong bolong melakukan ibadah sholat. Terlebih di era modern ini, banyak orang sibuk bersosial media, sehingga kerap kali melupakan kewajiban spiritualnya.

Isra Mi’raj sesunguhnya perjalanan spiritual Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsho dan kemudian dilanjutkan Nabi naik ke langit ke tujuh yakni Sidratil Muhtaha. Al Quran surat al Isro ayat 1 merekam dengan baik perjalanan itu,

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Perjalanan ini menghasilkan oleh oleh yang sangat berharga, yakni perintah menjalankan sholat lima waktu. Sholat lima waktu sendiri merupakan napak tilas perjalanan Nabi Muhammad dalam Isro miroj sendiri. Juga menjadi jawaban, bagaimana seorang hamba bersujud secara benar kepada Allah. Selama ribuan tahun, masih banyak umat manusia yang salah dalam beribadah kepada Tuhannya. Ada yang menyembah Tuhan dengan cara menyembuh berhala, menyembah pohon, binatang dan lain sebagainya. Dengan sholat, menjadi tanda penegasan tentang cara yang benar bersujud kepada Allah.

Selain sholat mengandung nilai nilai spiritual, sholat juga memiliki dampak sosial yang sangat besar pengaruhnya. Seperti saat sholat berjamaah. Menjadi Imam tidak semudah yang dikira. Ia memilliki prasyarat selain kemampuan ritual juga standar moral dalam hubungan kemasyarakatan. Seorang Imam akan dipilih dengan track record yang dimiliki, seperti kejujuran, amanah, berintregitas tinggi, dan yang paling penting mampu melayani masyarakat dengan ikhlas dan rendah hati.

Masyarakat juga diajarkan melalui perintah sholat untuk selalu memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Sebagaimana halnya ketika pada akhir sholat, seorang makmum dipimpin oleh imam untuk mengucapkan salam ditujukan sebagai bagian dari hubungan sosial antar sesama manusia yang tak boleh ditinggalkan serta dilupakan.

Maka momentum peringatan Isra’ Mi’raj ini sepatutnya dapat menjadi pelecut dan semangat kita kini dan masa yang mendatang untuk selalu berbuat demi kebaikan, dan kemanusiaan dalam ranah sosial. Isra’ sebagai contoh hubungan sesama manusia dan Mi’raj sebagai hubungan antara manusia dengan Tuhannya.

 

Taufik S.Pd.I

(Anggota LTN dan juga Penyuluh Agama di Kecamatan Kemlagi)